Sabtu, 08 Oktober 2011

askep PK pada anak

BAB  1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dewasa ini sering kita dengar terjadinya penganiayaan/perlakuan salah  terhadap anak, baik yang dilakukan oleh keluarga ataupun oleh pihak-pihak lain. Dalam bidang kedokteran sendiri, child abuse ini pertama kali dilaporkan pada  tahun 1860, di Perancis. Dimana 320 orang anak meninggal dengan kecurigaan  akibat perlakuan yang salah.

Memang sangat sukar kita percayai bahwa seseorang anak yang seharusnya menjadi tempat curahan kasih sayang dari orang tua dan keluarganya, malah mendapatkan penganiayaan sampai harus dirawat di Rumah  Sakit ataupun sampai meninggal dunia.
Insidennya :
1)      Hampir 3 juta kasus penganiayaan fisik dan seksual pada anak terjadi pada  tahun 1992
2)      Sebanyak 45 dari setiap 100 anak dapat mengalami penganiayaan
3)      Lebih dari 100 anak meninggal setiap tahunnya karena penganiayaan dan pengabaian
4)      Penganiayaan seksual paling sering terjadi pada anak perempuan, keluarga tiri, anak-anak yang tinggal dengan satu orang tua atau pria yang bukan keluarga 

            Di Indonesia ditemukan 160 kasus penganiyaan fisik,72 kasusu penganiyaan mental,dan 27 kasus penganiyaan seksual ( diteliti oleh Heddy Shri Ahimsa Putra,Tahun 1999  ). Sedangkan menurut YKAI didapatkan data pada tahun 1994 tercatat 172 kasus, tahun 1995 meningkat menjadi 421 dan tahun 1996 menjadi 476 kasus.

Setiap negara bagian mempunyai undang-undang yang menjelaskan tanggung jawab legal untuk melaporkan jika terdapat kecurigaan penganiayaan anak. Kecurigaan penganiayaan anak harus dilaporkan ke lembaga layanan perlindungan anak setempat. Pelapor yang diberi mandat untuk melapor adalah  perawat, dokter, dokter gigi, dokter anak, psikologi dan ahli terapi wicara, peneliti sebab kematian, dokter, karyawan lembaga penitipan anak, pekerja layanan anak-anak, pekerja sosial, guru sekolah. Kegagalan seseorang untuk  melaporkan orang tersebut didenda atau diberi hukuman lain, sesuai dengan  status masing-masing.


1.2  Tujuan
a.      Umum : mahasiswa mampu mengetahui bagai mana prilaku kekerasan pada kehidupan sehari-hari
b.      Khusus
ü  Mahasiswa mampu menjelaskan definisi dari PK anak
ü  Mahasiswa mampu mengetahui dampak dari PK anak
ü  Mahasiswa mampu menjelaskan tanda dan gejala PK anak
ü  Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada PK anak
ü  Mahasiswa mampu menegakan SP pada pasien PK



1.3  Rumusan Masalah
1.      Apa Definisi prilaku kekerasan paada anak ?
2.      Mengetahui Etiologi prilaku kekerasan ?
3.      Menyebutkan Tanda dan gejala pada prilaku kekerasan ?
4.      Mengetahui Dampak child abuse ?
5.      Apa Pemeriksaan penunjang pada prilaku kekerasan anak ?
6.      Bagaimana penatalaksanaan ?
 
 BAB 2
PEMBAHASAN

2.1  PENGERTIAN
a.       Child abuse adalah seorang anak yang mendapat perlakuan badani yang keras, yang dikerjakan sedemikian rupa sehingga menarik perhatian suatu badan dan menghasilkan pelayanan yang melindungi anak tersebut. (Delsboro, 1963)
b.      Child abuse dimana termasuk malnutrisi dan mentelantarkan anak sebagai stadium awal dari indrom perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir yang paling berat dari spectrum perlakuan salah oleh orang tuanya / pengasuh. (Fontana, 1971)
c.       Child abuse adalah setiap tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi.
d.      Child Abuse adalah tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi (David Gill, 1973)
e.       Child abuse yaitu trauma fisik atau mental, penganiayaan seksual, kelalaian pengobatan terhadap anak di bawah usia 18 tahun oleh orang yang seharusnya memberikan kesejahteraan baginya. (Hukum masyarakat Amerika Serikat mendefinisikan, 1974)
f.       Child Abuse adalah perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual (Synder, 1983)
g.      Child abuse adalah sebagai suatu kelalaian tindakan / perbuatan oleh orang tua atau yang merawat anak yang mengakibatkan terganggu kesehatan fisik emosional serta perkembangan anak. (Patricia, 1985)
h.       Child Abuse adalah penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak, dimana ini adalah hasil dari perilaku manusia yang keliru terhadap anak


2.2  KLASIFIKASI
Perlakuan salah pada anak, menurut sifatnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.      Penganiayaan fisik
Kekerasan ringan atau berat berupa trauma, atau penganiayaan yang dapat menimbulkan risiko kematian.Yang termasuk dalam katagori ini meliputi memar, perdarahan internal, perdarahan subkutan, fraktur, trauma kepala, luka tikam dan luka bakar, keracunan, serta penganiayaan fisik bersifat ritual.
2.      Penganiayaan seksual
Penganiayaan seksual dapat berupa inces (penganiayaan seksual oleh orang yang masih mempunyai hubungan keluarga), hubungan orogenital, pornografi, prostitusi, ekploitas, dan penganiayaan seksual yang bersifat ritual.
3.      Penganiayaan psikologis
Yang termasuk dalam kategori ini meliputi  trauma psikologik yang dapat menganggu kehidupan sehari-hari seperti ketakutan, ansietas, depresi, isolasi, tidak adanya respons dan agresi yang kuat.
4.      Pengetahuan
Pengabaian disengaja, tetapi dapat juga karena ketidaktahuan ataupun akibat kesulitan ekonomi. Yang termasuk dalam kategori ini meliputi:
1.      Pengabaian  nutrisi atau dengan sengaja kurang memberikan makanan, paling sering dilakukan pada bayi  yang berat badan rendah. Gagal tumbuh, yaitu suatu kegagalan dalam pemenuhan masukan kalori serta kebutuhan emosi anak yang cukup.
2.      Pengabaian medis bagi anak penderita suatu penyakit akut atau kronik sehingga mengakibatkan memburuknya keadaan, bahkan kematian.
3.      Pengabaian pendidikan anak setelah mencapai usia sekolah, dengan tidak menyekolahkannya.
4.      Pengabaian emosional, dimana orang tua kurang perhatian terhadap anaknya.
5.      Pengabagian keamanan anak. Anak kurang pengawasan sehingga menyebabkan anak mengalami risiko tinggi terhadap fisik dan jiwanya.
5.      Sindroma munchausen
Sindroma munchausen merupakan permintaan pengobatan terhadap penyakit yang dibuat dengan pemberian keterangan medis palsu oleh orang tua, yang menyebabkan anak banyak  mendapat pemeriksaan/prosedur rumah sakit.
6.      Penganiayaan emosional
Ditandai dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan anak, tidak mengakui sebagai anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain

2.3  ETIOLOG
Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikis, di antaranya adalah
1.      Stres yang berasal dari anak
a)      Fisik berbeda
Yang dimaksud dengan fisik berbeda adalah kondisi anak berbeda dengan anak yang. Contoh yang bisa dilihat adalah anak mengalami cacat fisik. Anak mempunyai kelainan fisik dan berbeda dengan anak lain yang mempunyai fisik yang sempurna.
b)      Mental berbeda
Mental berbeda adalah anak yang mengalami keterbelakangan mental sehingga anak mengalami masalah pada perkembangan dan sulut berinteraksi dengan lingkungan di sekitar
c)      Temperamen berbeda
Anak dengan temperamen yang lama cendrung mengalami banyak kekerasan bila dibandingkan dengan anak yang memiliki temperamen keras. Hal ini disebabkan karena anak yang memiliki temperamen keras cenderung akan melawan bila dibandingkan dengan anak bertemperamen lemah
d)     Tingkah laku berbeda
yaitu anak memiliki tingkah laku yang tidak sewajarnya dan berbeda dengan anak lain. Misalnya anak berperilaku dan bertingkah aneh didalam keluarga dan lingkungan sekitarnya.
e)      Anak angkat
Anak angkat cenderung mendapatkan perlakuan kasar disebabkan orang tua menganggap bahwa anak angkat bukanlah buah hati hasil dari perkawinan sendiri, sehingga secara naluriah tidak ada hubungan emosionalyang kuat antara anak angkat dan orang tua.

2.      Stress keluarga
1)      Kemiskinan dan pengangguran
Kedua faktor ini merupakan faktor terkuat yang menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak, sebab kedua faktor ini berhubungan kuat dengan kelangsungan hidup. Sehingga apapun akan dilakukan oleh orang tua terutama demi mencukupi kebutuhan hidupnya termasuk harus mengorbankan keluarga oleh orangtua terutama demi mencukupi kebutuhan hidupnya termasuk harusmengorbankan keluarga.
2)      mobilitas, isolasi, dan perumahan tidak memadai
ketiga faktor ini juga berpengaruh besar terhadap terjadinya kekerasan pada anak, sebab lingkungan sekitarlah yang menjadi faktor terbesar dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku anak.
3)      Perceraian
Perceraian mengakibatkan stres pada anak, sebab anak akan kehilangan kasih sayang dari kedua orangtua.
4)      Anak yang tidak di harapkan
Hal ini juga akanmengakibatkan munculnya perilaku kekerasan pada anak, sebab anak tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orangtua, misalnya kekurangan fisik, lemah mental, dsb.
3.      Stress berasal dari orangtua
a)      Rendah diri, anak dengan rendah diri akan sering mendapatkan kekerasan, sebabanak selalu merasa dirinya tidak berguna dan selalu mengecewakan orang lain.
b)      Waktu kecil mendapat perlakuan salah, orangtua yang mengalami perlakuansalah pada masa kecil akan melakuakan hal yang sama terhadap orang lain atau anaknya sebagai bentuk pelampiasan atas kejadian yang pernah dialaminya.
c)      Harapan pada anak yang tidak realistis, harapan yang tidak realistis akan membuat orang tua mengalami stres berat sehingga ketika tidak mampu memenuhi kebutuhan anaknya, orang tua cenderung menjadikan anak sebagai pelampiasan kekesalannya dengan melakukan tindakan kekerasan.

2.4  MANIFESTASI KLINIS

Anak- anak yang menjadi korban child abuse rata-rata perkembangan psikologis mengalami gangguan.Mereka terlihat murung, tertutup, jarang beradaptasi dan bersosialisasi, kurang konsentrasi, dan prestasi akademik menurun (Hefler, 1976). Studi lain menemukan bahwa anak-anak usia di bawah 25 bulan yang menjadi korban child abuse, skor perkembangan kognitifnya lemah. Hal ini ditandai oleh empat perbedaan perilaku dan perkembangan anak, yakni perbuatan kognitif, penyesuaian fungsi-fungsi di sekolah, perilaku di ruang kelas.Dan perilaku di rumah (Mackner, 1997).
Anak yang berulang kali mengalami jelas pada susunan saraf pusatnya dapat mengalami keterlambatan dan keterbelakangan mental, kejang-kejang hidrosefalus, atau ataksia. Selanjutnya, keluarga-keluarga yang tidak mendapat pengobatan serta perawatan yang memadai cenderung akan menghasilkan anak remaja yang nakal dan menjadi penganiaya anak sendiri pada generasi berikutnya.
Anak yang telah mengalami penganiayaan seksual dapat menyebabkan perubahan tingkah laku dan emosi anak, antara lain depresi, percobaan bunuh diri. Gangguan stress post traumatik, dan penggunaan makan. Seorang anak laki-laki korban penganiayaan seksual di kemudian hari.
Wanita yang secara fisik mengalami kekerasan pada waktu anak-anak akan dua kali lebih tinggi rentan atas penyakit atau gejala kegagalan untuk makan. Sebuah dampak yang membuat para wanita itu ketika beranjak dewasa mengalami masalah dengan mengkonsumsi makanan.Namun dampak yang paling besar dialami adalah akibat perlakuan keras dan pelecehan seksual saat mereka masih gadis.Kekerasan saat kecil memang sudah lama menjadi satu faktor penyebab timbulnya gejala atau penyakit sulit makan seperti anorexia dan bulimia. Gejala bulimia ini pernah dialami oleh mendiang Putri Wales, Putri Diana yang stress akibat perlakuan yang diterimanya. Gejala anorexia dan bulimia hampir terjadi pada semua responden wanita dimana 102 wanita memiliki gejala yang jelas sementara 42 wanita lainnya harus melakukan konsultasi dengan dokter mengenai gejala yang mereka alami. Seorang gadis akan mengalami gejala perlakuan keras semasa kecil. Bahkan resiko itu akan naik tiga hingga  empat kali pada wanita yang mengalami kekerasan fisik dan seksual sekaligus.

2.5             Tanda dan gejala
Tanda fisik yang bisa dijumpai pada physical abuse :
Cidera Kulit
Cidera kulit adalah tanda-tanda penganiayaan anak yang paling umum dan paling mudah dikenali. Bekas gigitan manusia tanpak sebagai daerah lonjong dengan bekas gigitan dan hisapan atau tanda dorongan lidah. Memar multipel atau memar pada daerah-daerah yang tidak terjangkau menunjukan bahwa anak itu telah mengalami penganiayaan. Memar yang ada dalam berbagai tahap penyembuhan menunjukkanadanya trauma yang terjadi berulang kali. Memar berbentuk objek yang dapat dikenaliumumnya bukan suatu kebetulan.
 Kerontokan Rambut Traumatik
Kerontokan rambut traumatik terjadi ketika rambut anak ditarik, atau dipakai untuk menyeret atau menyentak anak. Akibatnya pada kulit kepala dapat memecahkan pembuluh darah di bawah kulit. Adanya akumulasi darah dapat membantu membedakan antara kerontokan rambut akibat penganiayaan atau non-penganiayaan.
 Jatuh
Jika seorang anak dilaporkan mengalami kejatuhan biasa, namun yang tampak adalahcidera yang tidak biasa, maka ketidaksesuaian riwayat dengan trauma yang dialamitersebut menimbulkan kecurigaan adanya penganiayaan terhadap anak.
Cidera Eksternal pada Kepala, Muka dan Mulut
Luka, perdarahan, kemerahan atau pembengkakan pada kanal telinga luar, bibir pecah- pecah, gigi yang goyang atau patah, laserasi pada lidah dan kedua mata biru tanpatrauma pada hidung, semuanya dapat mengindikasikan adanya penganiayaan.
Cidera Termal Disengaja atau Diketahui Sebabnya
Luka bakar terculap dengan garis batas jelas, luka bakar sirkuler kecil-kecil dan banyak dalam berbagai tahap penyembuhan, luka bakar setrikaan, luka bakar daerah popok dan luka bakar tali semuanya memberikan kesan adanya tindakan jahat yangdisengaja.
Sindroma Bayi Terguncang
Guncangan pada bayi menimbulkan cidera ekslersi deselersi pada otak, menyebabkanregangan dan pecahnya pembuluh darah. Hal ini dapat menimbulkan cidera berat padasystem saraf pusat, tanpa perlu bukti-bukti cidera eksternal.
Fraktur dan Dislokasi yang Tidak Dapat Dijelaskan
Fraktur Iga Posterior dalam berbagai tahap penyembuhan, fraktur spiral atau dislokasikarena terpelintirnya ekstremitas merupakan bukti cidera pada anak yang tidak terjadisecara kebetulan.Menurut American Academy of  Child Adolescent Psychiatry (2007) anak telah mengalami penganiayaan dapat menunjukkan ciri-ciri :
Mempunyai gambaran diri yang lemah & tidak bisa menjalankan peran
Ketidakmampuan untuk percaya atau mencintai orang lain
Agresif, mengganggu, dan berperilaku tidak benar
Kemarahan dan amuk, merusak diri sendiri, pemikiran tentang bunuh diri
Pasif, menarik diri, dan perilaku mengandung kutukan
Ketakutan melakukan aktivitas atau hubungan interpersonal yang baru
Khawatir dan takut, merasa sedih yang berlebih atau merasa tertekan
Permasalahan sekolah atau kegagalan dan penyalahgunaan NAPZA
Gangguan tidur, mimpi buruk Menurut

2.6   DAMPAK CHILD ABUSE
Child abuse ini menimbulkan dampak diantaranya :
a)      Anak kehilangan hak untuk menikmati masa kanak-kanaknya. Anak bisa saja kehilangan keceriaannya karena kekerasan yanga di alaminaya hingga malas untuk bermain.
b)      Sering menjadi korban eksploitasi dan penindasan dari orang dewasa. Anak yang pernah menjadi korban kekerasan lagi dan semakin ditindas orang dewasa bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
c)      Sering pada saat dewasa membawa dampak psikologis : labilitas emosi, prilaku agresif, tindak kekerasan, penyalahgunaan NAPZA, perilaku sex bebas, dan perilakuanti sosial.
d)     Kerusakan fisik : pertumbuhan dan perkembangan tubuh kurang normal atau bahkan mengalaami kecacatan dan rusaknya sistem saraf pusat.
e)      Besar kemungkinan setelah dewasa akan memberi perlakuan keras secara fisik padanya
f)       Akibat yang paling fatal adalah kematian

2.7   KOMPLIKASI
1.      Mengalami keterlambatan dan keterbelakangan mental
2.      Kejang-kejang
3.      Hidrocepalus
4.      Ataksia
5.      Kenakalan remaja
6.      Depresi dan percobaan bunuh diri
7.      Gangguan Stress post traumatic
8.      Gangguan makan

2.8   PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.   Laboratorium
Jika dijumpai luka memar, perlu dilakukan skrining perdarahan pada penganiayaan seksual, dilakukan pemeriksaan.
1.      Swab untuk analisa  asam fosfatase, spermatozoa,  dalam 72 jam setelah penganiayaan seksual.
2.      Kultur spesimen dari oral, anal, dan vaginal untuk gonokokus.
3.      Tes untuk sifilis, HIV, dan hepatitis B.
4.      Analisa rambut pubis.
2.      Radiologi
Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada anak, yaitu untuk:
1.      Identifikasi fokus dari bekas
2.      Dokumentasi
Pemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia dua tahun sebaiknya dilakukan untuk meneliti tulang, sedangkan pada anak di atas 4-5 tahun hanya perlu dilakukan jika ada rasa nyeri tulang, keterbatasan dalam pergerakan pada saat pemeriksaan fisik. Adanya fraktur multipel dengan tingkat penyembuhan yang berbeda, merupakan suatu kemungkinan adanya penganiayaan fisik.Ultrasonografi (USG) digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi viseral. CTscan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan kronik, hanya diindikasikan pada penganiayaan anak atau seorang bayi yang mengalami trauma  kepala yang berat.
MRI (Magnetic Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang subakut.Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang mengalami penganiayaan seksual.

2.9   PENATALAKSANAAN
Karena perlakuan salah pada anak ini merupakan akibat dari penyebab yang kompleks, maka penanganan harus dilakukan oleh suatu tim dari multidisiplin ilmu yang terdiri dari dokter anak, psikiater, psikolog, petugas sosial, ahli hukum, pendidik, dan lain-lain. Seorang anak yang dicurigai mengalami penganiayaan atau pengabaian harus dirumahsakitkan, terlepas dari luas dan hebatnya jejas yang dialaminya. Hal ini dilakukan dengan tujuan  untuk melindungi anak tersebut.
Di Hongkong, Departemen Sosial atau polisi menggunakan Pengadilan Anak-anak untuk melindungi dan merawat anak tersebut. Dengan cara intervensi dari multidiplin ilmu, sekitar 80% dari keluarga mengalami perbaikan meskipun setengahnya memerlukan dukungan dalam jangka lama.

 

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN CHILD ABUSE
3.1  pengkajian
  1. Riwayat keluarga dari penganiayaan anak yang lalu.
  2. Kecelakaan yang berulang-ulang, dengan fraktur/memar/jaringan yang berbeda waktu sembuhnya.
  3. Orang tua yang lambat mencari pertolongan  medis.
  4. Orang tua yang mengaku tidak mengetahui bagaimana jelas tersebut terjadi.
  5. Riwayat kecelakaan dari orangtua berbeda atau berubah-ubah pada anamnesis.
  6. Keterangan yang tidak sesuai dengan penyebab jejas yang tampak atau stadium perkembangan anak.
  7. Orang tua yang mengabaikan jejas utama yang hanya membicarakan masalah kecil yang terus-menerus.
  8. Orangtua berpindah dari satu dokter ke dokter yang lain sampai satu saat akhir bercerita  bahwa ada sesuatu yang salah dengan anak mereka.
  9. Penyakit anak yang tidak dapat  dijelaskan penyebabnya.
  10. Anak yang gagal tumbuh tanpa alasan yang jelas.
  11. Anak wanita yang tiba-tiba berubah tingkah lakunya, menyendiri atau sangat takut dengan orang asing, harus diwaspadai kemungkinan terjadinya penganiayaan seksual.
  12. Pada anak yang lebih tua, mungkin dapat menceritakan jejasnya, tetapi kemudian mengubah uraiannya karena rasa takut akan pembalasan atau untuk mencegah pembalasan orangtua.
Pohon masalah
Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkunagn

Prilaku kekerasan / amuk

Gangguan harga diri : harga diri rendah
Data yang perlu di kaji
a)      Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Ø  Data subyektif
ü  Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang
ü  Klien suka membentak dan suka menyerang seseorang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah
ü  Riwayat prilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainya
Ø  Data obyektif
ü  Mata merah, wajah agak merah
ü  Nada suara tinggi dan agak keras,bicara menguasai : berteriak, menjerit, memukul diri sendiri / orang lain
ü  Ekspresi marah saat membicarakan orang pandangan tajam
ü  Merusak dan melempar barang- barang
b)      Prilaku kekerasan
Ø  Data subyektif
ü  Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang
ü  Klien suka membentak dan suka menyerang seseorang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah
ü  Riwayat prilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainya
Ø  Data obyektif
ü  Mata merah, wajah agak merah
ü  Nada suara tinggi dan agak keras,bicara menguasai : berteriak, menjerit, memukul diri sendiri / orang lain
ü  Ekspresi marah saat membicarakan orang pandangan tajam
ü  Merusak dan melempar barang- barang
c)      Hargadiri rendah
Ø  Data subyektif
Klien mengatakan : saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri
Ø  Data obyektif
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila di suruh memilih alternatif tindakan, ingin mencedrai diri/ ingin mengakhiri hidup
3.2  Diagnosa keperawatan
  1. Resiko mencedrai diri, orang lain dan lingkungan
  2. Prilaku kekerasan / amuk
  3. Harga diri rendah
3.3  Tindakan keperawatan
Px 1. Prilaku kekerasan
v  Tindakan keperawatan untuk pasien
·         Tujuan
ü  Pasien dapat mengidentifikasi penyebab prilaku kekerasan
ü  Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda prilaku kekerasan
ü  Pasien dapat menyebutkan jenis prilaku kekerasan yang pernah di lakukan
ü  Pasien dapat menyebutkan akibat dari prilaku kekerasan yang dilakukannya
ü  Pasien dapat menyebutkan cara mencegah atau mengontrol prilaku kekerasanya
ü  Pasien dapat mencegah atau mengontrol prilaku kekerasan secara fisik, spiritual, sosian, dan dengan terapi psikofaarmaka

·         Tindakan Pasien
SP Ip
1.      Mengidentifikasi penyebab PK
2.      Mengidentifikasi tanda dan gejala PK
3.      Mengidentifikasi PK yang dilakukan
4.      Mengidentifikasi akibat PK
5.      Menyebutkan cara mengontrol PK
6.      Membantu pasien mempraktekkan latihan cara mengontrol fisik I
7.      Menganjurkan pasien memasukkan dalam kegiatan harian

SP IIp
1.      Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.      Melatih pasien  mengontrol PK dengan cara fisik II
3.      Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

SP IIIp
1.      Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.      Melatih pasien mengontrol PK dengan cara verbal
3.      Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

SP IVp
1.      Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.      Melatih pasien mengontrol PK dengan cara spiritual
3.      Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

SP Vp
1.      Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.      Menjelaskan  cara mengontrol PK dengan minum obat
3.      Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

v  Tindakan keperawatan untuk keluarga
·         Tujuan
ü  Keluarga dapat merawat pasien di rumah
·         Tindakan keluarga
SP I k
1.      Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2.      Menjelaskan pengertian PK, tanda dan gejala, serta proses terjadinya PK
3.      Menjelaskan cara merawat pasien dengan PK

SP II k
1.      Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan PK
2.      Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien PK

SP III k
1.      Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum obat  (discharge planning)
Menjelaskan  follow up pasien setelah pulang



BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Child abuse adalah segala perlakuan buruk yang dilakuakn terhadap  anaka atupun  remaja oleh para orang tua,wali atau orang lain yang seharusnya memelihara dan merawat orang tersebut. Child abuse ini dapat dibagi dalam 2 jenis,yaitu di dalam keluarga dan diluar keluarga
Diagnosa keperawatan pada child abuse ditegakkan berdasarkan :
·         Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
·         Penganiyaan fisik
·         Pemeriksaan Laboratorium
·         Pemeriksaan radiologi

Pencegahan dan penanggulangan penganiayaan dan kekerasan pada anak  merupakan hal serius yang segera harus dilakukan oleh semua pihak, yaitu orang tua/keluarga, pendidik, penegak hukum, penanggung jawab keamanan, mass media dan pelayanan kesehatan

Mengingat dampak penganiayaan dan kekerasan akan mengganggu proses kehidupan anak yang panjang hendaknya upaya pencegahan lebih diprioritaskan. Terlebih atas anak adalah  masa depan suatu bangsa.

Diharapkan dengan adanya Undang – undang no.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ,maka angka kejadian child abuse bisa berkurang bahakan hilang dari permukaan Negara Indonesia ini.

4.2 Saran

Demikian makalah ini kami susun sebagaimana mestinya semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya sebagi tim penyusun dan bagi semua mahasiswa dan mahasiswi kesehatan pada umumya.
Kami sebagai penyusun menyadari akan keterbatasan kemampuan yang menyebabkan kekurangan sempurnaan dalam makalah ini, baik dari segi isi maupun materi, bahasa, dan lain sebagainya. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan-perbaikan selanjutnya agar makalah selanjutnya dapat lebih baik.

Daftar pustaka

1.     Stuart GW, sundeen, principles and practice of psykiatric nursing (5th ed ). St.louis Mosby Year Book, 1995
2.     Modul MPKP keperawatan jiwa
3.     Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung, 2000
4.     Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo, 2003
5.     Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi 1, Jakarta : EGC, 19999

Tidak ada komentar:

Posting Komentar