BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini sering kita dengar terjadinya penganiayaan/perlakuan salah terhadap anak, baik yang dilakukan oleh keluarga ataupun oleh pihak-pihak lain. Dalam bidang kedokteran sendiri, child abuse ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1860, di Perancis. Dimana 320 orang anak meninggal dengan kecurigaan akibat perlakuan yang salah.
Memang sangat sukar kita percayai bahwa seseorang anak yang seharusnya menjadi tempat curahan kasih sayang dari orang tua dan keluarganya, malah mendapatkan penganiayaan sampai harus dirawat di Rumah Sakit ataupun sampai meninggal dunia.
Insidennya :
1) Hampir 3 juta kasus penganiayaan fisik dan seksual pada anak terjadi pada tahun 1992
2) Sebanyak 45 dari setiap 100 anak dapat mengalami penganiayaan
3) Lebih dari 100 anak meninggal setiap tahunnya karena penganiayaan dan pengabaian
4) Penganiayaan seksual paling sering terjadi pada anak perempuan, keluarga tiri, anak-anak yang tinggal dengan satu orang tua atau pria yang bukan keluarga
Di Indonesia ditemukan 160 kasus penganiyaan fisik,72 kasusu penganiyaan mental,dan 27 kasus penganiyaan seksual ( diteliti oleh Heddy Shri Ahimsa Putra,Tahun 1999 ). Sedangkan menurut YKAI didapatkan data pada tahun 1994 tercatat 172 kasus, tahun 1995 meningkat menjadi 421 dan tahun 1996 menjadi 476 kasus.
Setiap negara bagian mempunyai undang-undang yang menjelaskan tanggung jawab legal untuk melaporkan jika terdapat kecurigaan penganiayaan anak. Kecurigaan penganiayaan anak harus dilaporkan ke lembaga layanan perlindungan anak setempat. Pelapor yang diberi mandat untuk melapor adalah perawat, dokter, dokter gigi, dokter anak, psikologi dan ahli terapi wicara, peneliti sebab kematian, dokter, karyawan lembaga penitipan anak, pekerja layanan anak-anak, pekerja sosial, guru sekolah. Kegagalan seseorang untuk melaporkan orang tersebut didenda atau diberi hukuman lain, sesuai dengan status masing-masing.
1.2 Tujuan
a. Umum : mahasiswa mampu mengetahui bagai mana prilaku kekerasan pada kehidupan sehari-hari
b. Khusus
ü Mahasiswa mampu menjelaskan definisi dari PK anak
ü Mahasiswa mampu mengetahui dampak dari PK anak
ü Mahasiswa mampu menjelaskan tanda dan gejala PK anak
ü Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada PK anak
ü Mahasiswa mampu menegakan SP pada pasien PK
1.3 Rumusan Masalah
1. Apa Definisi prilaku kekerasan paada anak ?
2. Mengetahui Etiologi prilaku kekerasan ?
3. Menyebutkan Tanda dan gejala pada prilaku kekerasan ?
4. Mengetahui Dampak child abuse ?
5. Apa Pemeriksaan penunjang pada prilaku kekerasan anak ?
6. Bagaimana penatalaksanaan ?
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
a. Child abuse adalah seorang anak yang mendapat perlakuan badani yang keras, yang dikerjakan sedemikian rupa sehingga menarik perhatian suatu badan dan menghasilkan pelayanan yang melindungi anak tersebut. (Delsboro, 1963)
b. Child abuse dimana termasuk malnutrisi dan mentelantarkan anak sebagai stadium awal dari indrom perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir yang paling berat dari spectrum perlakuan salah oleh orang tuanya / pengasuh. (Fontana, 1971)
c. Child abuse adalah setiap tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi.
d. Child Abuse adalah tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak optimal lagi (David Gill, 1973)
e. Child abuse yaitu trauma fisik atau mental, penganiayaan seksual, kelalaian pengobatan terhadap anak di bawah usia 18 tahun oleh orang yang seharusnya memberikan kesejahteraan baginya. (Hukum masyarakat Amerika Serikat mendefinisikan, 1974)
f. Child Abuse adalah perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual (Synder, 1983)
g. Child abuse adalah sebagai suatu kelalaian tindakan / perbuatan oleh orang tua atau yang merawat anak yang mengakibatkan terganggu kesehatan fisik emosional serta perkembangan anak. (Patricia, 1985)
h. Child Abuse adalah penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak, dimana ini adalah hasil dari perilaku manusia yang keliru terhadap anak
2.2 KLASIFIKASI
Perlakuan salah pada anak, menurut sifatnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Penganiayaan fisik
Kekerasan ringan atau berat berupa trauma, atau penganiayaan yang dapat menimbulkan risiko kematian.Yang termasuk dalam katagori ini meliputi memar, perdarahan internal, perdarahan subkutan, fraktur, trauma kepala, luka tikam dan luka bakar, keracunan, serta penganiayaan fisik bersifat ritual.
2. Penganiayaan seksual
Penganiayaan seksual dapat berupa inces (penganiayaan seksual oleh orang yang masih mempunyai hubungan keluarga), hubungan orogenital, pornografi, prostitusi, ekploitas, dan penganiayaan seksual yang bersifat ritual.
3. Penganiayaan psikologis
Yang termasuk dalam kategori ini meliputi trauma psikologik yang dapat menganggu kehidupan sehari-hari seperti ketakutan, ansietas, depresi, isolasi, tidak adanya respons dan agresi yang kuat.
4. Pengetahuan
Pengabaian disengaja, tetapi dapat juga karena ketidaktahuan ataupun akibat kesulitan ekonomi. Yang termasuk dalam kategori ini meliputi:
1. Pengabaian nutrisi atau dengan sengaja kurang memberikan makanan, paling sering dilakukan pada bayi yang berat badan rendah. Gagal tumbuh, yaitu suatu kegagalan dalam pemenuhan masukan kalori serta kebutuhan emosi anak yang cukup.
2. Pengabaian medis bagi anak penderita suatu penyakit akut atau kronik sehingga mengakibatkan memburuknya keadaan, bahkan kematian.
3. Pengabaian pendidikan anak setelah mencapai usia sekolah, dengan tidak menyekolahkannya.
4. Pengabaian emosional, dimana orang tua kurang perhatian terhadap anaknya.
5. Pengabagian keamanan anak. Anak kurang pengawasan sehingga menyebabkan anak mengalami risiko tinggi terhadap fisik dan jiwanya.
5. Sindroma munchausen
Sindroma munchausen merupakan permintaan pengobatan terhadap penyakit yang dibuat dengan pemberian keterangan medis palsu oleh orang tua, yang menyebabkan anak banyak mendapat pemeriksaan/prosedur rumah sakit.
6. Penganiayaan emosional
Ditandai dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan anak, tidak mengakui sebagai anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain
2.3 ETIOLOG
Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kekerasan. Baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikis, di antaranya adalah
1. Stres yang berasal dari anak
a) Fisik berbeda
Yang dimaksud dengan fisik berbeda adalah kondisi anak berbeda dengan anak yang. Contoh yang bisa dilihat adalah anak mengalami cacat fisik. Anak mempunyai kelainan fisik dan berbeda dengan anak lain yang mempunyai fisik yang sempurna.
b) Mental berbeda
Mental berbeda adalah anak yang mengalami keterbelakangan mental sehingga anak mengalami masalah pada perkembangan dan sulut berinteraksi dengan lingkungan di sekitar
c) Temperamen berbeda
Anak dengan temperamen yang lama cendrung mengalami banyak kekerasan bila dibandingkan dengan anak yang memiliki temperamen keras. Hal ini disebabkan karena anak yang memiliki temperamen keras cenderung akan melawan bila dibandingkan dengan anak bertemperamen lemah
d) Tingkah laku berbeda
yaitu anak memiliki tingkah laku yang tidak sewajarnya dan berbeda dengan anak lain. Misalnya anak berperilaku dan bertingkah aneh didalam keluarga dan lingkungan sekitarnya.
e) Anak angkat
Anak angkat cenderung mendapatkan perlakuan kasar disebabkan orang tua menganggap bahwa anak angkat bukanlah buah hati hasil dari perkawinan sendiri, sehingga secara naluriah tidak ada hubungan emosionalyang kuat antara anak angkat dan orang tua.
2. Stress keluarga
1) Kemiskinan dan pengangguran
Kedua faktor ini merupakan faktor terkuat yang menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak, sebab kedua faktor ini berhubungan kuat dengan kelangsungan hidup. Sehingga apapun akan dilakukan oleh orang tua terutama demi mencukupi kebutuhan hidupnya termasuk harus mengorbankan keluarga oleh orangtua terutama demi mencukupi kebutuhan hidupnya termasuk harusmengorbankan keluarga.
1. b.
2. Mobilitas, isolasi, dan perumahan tidak memadai
3. , ketiga faktor ini juga berpengaruh besar terhadap terjadinya kekerasan pada anak, sebab lingkungansekitarlah yang menjadi faktor terbesar dalam membentuk kepribadian dantingkah laku anak.
4. c.
5. Perceraian
6. , perceraian mengakibatkan stress pada anak, sebab anak akankehilangan kasih sayang dari kedua orangtua.
7. d.
8. Anak yang tidak diharapkan
9. , hal ini juga akan mengakibatkan munculnya perilaku kekerasan pada anak, sebab anak tidak sesuai dengan apa yangdiinginkan oleh orangtua, misalnya kekurangan fisik, lemah mental, dsb.
10. 3.
11. Stress berasal dari orangtua
12. a.
13. Rendah diri
14. , anak dengan rendah diri akan sering mendapatkan kekerasan, sebabanak selalu merasa dirinya tidak berguna dan selalu mengecewakan orang lain.
15. b.
16. Waktu kecil mendapat perlakuan salah
17. , orangtua yang mengalami perlakuansalah pada masa kecil akan melakuakan hal yang sama terhadap orang lain atauanaknya sebagai bentuk pelampiasan atas kejadian yang pernah dialaminya.
18. c.
19. Harapan pada anak yang tidak realistis
20. , harapan yang tidak realistis akanmembuat orangtua mengalami stress berat sehingga ketika tidak mampumemenuhi memenuhi kebutuhan anak, orangtua cenderung menjadikan anak sebagai pelampiasan kekesalannya dengan melakukan tindakan kekerasan.
21. C.Klasifikasi
22. •
23. Emotional AbusePerlakuan yang dilakukan oleh orang tua seperti menolak anak, meneror,mengabaikan anak, atau mengisolasi anak. Hal tersebut akan membuat anak merasa
24. Child AbusePage 6
25. 
26.
27. dirinya tidak dicintai, atau merasa buruk atau tidak bernilai. Hal ini akanmenyebabkan kerusakan mental fisik, sosial, mental dan emosional anak.-Indikator fisik kelainan bicara, gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan.-Indikator perilaku – kelainan keiasaan (menghisap, mengigit, atau memukul-mukul)
28. •
29. Physical AbuseCedera yang dialami oleh seorang anak bukan karena kecelakaan atau tindakan yangdapat menyebabkan cedera serius pada anak, atau dapat juga diartikan sebagaitindakan yang dilakukan oleh pengasuh sehingga mencederai anak. Biasanya berupaluka memar, luka bakar atau cedera di kepala atau lengan.-Indikator fisik – luka memar, gigitan manusia, patah tulang, rambut yang tercabut,cakaran-Indikator perilaku – waspada saat bertemu degan orang dewasa, berperilakuekstrem seerti agresif atau menyendiri, takut pada orang tua, takut untuk pulangke rumah, menipu, berbohong, mencuri.
30. •
31. NeglectKegagalan orang tua untuk memberikan kebutuhan yang sesuai bagi anak, sepertitidak memberikan rumah yang aman, makanan, pakaian, pengobatan, ataumeninggalkan anak sendirian atau dengan seseorang yang tidak dapat merawatnya .
32. -
33. Indikator fisik – kelaparan, kebersihan diri yang rendah, selalu mengantuk,kurangnya perhatian, masalah kesehatan yang tidak ditangani.
34. -
35. Indikator kebiasaan ¬ Meminta atau mencuri makanan, sering tidur, kurangnya perhatian pada masalah kesehatan, masalah kesehatan yang tidak ditangani, pakaian yang kurang memadai (pada musim dingin), ditinggalkan.
36. Child AbusePage 7
37. 
38.
39. •
40. Sexual AbuseTermasuk menggunakan anak untuk tindakan sexual, mengambil gambar pornografianak-anak, atau aktifitas sexual lainnya kepada anak.-Indikator fisik – kesulitan untuk berjalan atau duduk, adanya noda atau darah di baju dalam, nyeri atau gatal di area genital, memar atau perdarahan di areagenital/ rektal, berpenyakit kelamin.-Indikator kebiasaan – pengetahuan tentang seksual atau sentuhan seksual yangtidak sesuai dengan usia, perubahan pada penampilan, kurang bergaul denganteman sebaya, tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan fisik, berperilaku permisif/ berperilaku yang menggairahkan, penurunan keinginan untuk sekolah, gangguantidur, perilaku regressif (misal: ngompol)
41. D.Dampak Child Abuse
42. Child abuse ini menimbulkan dampak (Moore,2004) diantaranya :1.Anak kehilangan hak untuk menikmati masa kanak-kanaknya. Anak bisa sajakehilangan keceriaannya karena kekerasan yang dialaminya hingga malas untuk bermain.2.Sering menjadi korban eksploitasi dan penindasan dari orang dewasa. Anak yang pernah menjadi korban kekerasan lagi dan semakin ditindas orang dewasa bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.3.Sering pada saat dewasa membawa dampak psikologis : labilitas emosi, perilakuagresif, tindak kekerasan, penyalahgunaan NAPZA, perilaku sex bebas, dan perilakuanti sosial.4.Kerusakan fisik : pertumbuhan dan perkembangan tubuh kurang normal atau bahkanmengalami kecacatan dan rusaknya sistem syaraf.5.Besar kemungkinan setelah dewasa akan memberi perlakuan keras secara fisik padaanaknya.
43. Child AbusePage 8
44. 
45.
46. 6.Akibatnya yang paling fatal adalah kematian
47. E.Tanda dan Gejala
48. Tanda fisik yang bisa dijumpai pada physical abuse :
49.
50. Cidera Kulit
51. Cidera kulit adalah tanda-tanda penganiayaan anak yang paling umum dan palingmudah dikenali. Bekas gigitan manusia tampak sebagai daerah lonjong dengan bekasgigi, tanda hisapan atau tanda dorongan lidah. Memar multiple atau memar padatempat-tempat yang tidak terjangkau menunjukkan bahwa anak itu telah mengalami penganiayaan. Memar yang ada dalam berbagai tahap penyembuhan menunjukkanadanya trauma yang terjadi berulang kali. Memar berbentuk objek yang dapat dikenaliumumnya bukan suatu kebetulan.
52.
53. Kerontokan Rambut Traumatik
54. Kerontokan rambut traumatik terjadi ketika rambut anak ditarik, atau dipakai untuk menyeret atau menyentak anak. Akibatnya pada kulit kepala dapat memecahkan pembuluh darah di bawah kulit. Adanya akumulasi darah dapat membantumembedakan antara kerontokan rambut akibat penganiayaan atau non-penganiayaan.
55.
56. Jatuh
57. Jika seorang anak dilaporkan mengalami kejatuhan biasa, namun yang tampak adalahcidera yang tidak biasa, maka ketidaksesuaian riwayat dengan trauma yang dialamitersebut menimbulkan kecurigaan adanya penganiayaan terhadap anak.
58.
59. Cidera Eksternal pada Kepala, Muka dan Mulut
60. Luka, perdarahan, kemerahan atau pembengkakan pada kanal telinga luar, bibir pecah- pecah, gigi yang goyang atau patah, laserasi pada lidah dan kedua mata biru tanpatrauma pada hidung, semuanya dapat mengindikasikan adanya penganiayaan.
61.
62. Cidera Termal Disengaja atau Diketahui Sebabnya
63. Child AbusePage 9
64. 
65.
66. Luka bakar terculap, dengan garis batas jelas, luka bakar sirkuler kecil-kecil dan banyak dalam berbagai tahap penyembuhan, luka bakar setrikaan, luka bakar daerah popok dan luka bakar tali semuanya memberikan kesan adanya tindakan jahat yangdisengaja.
67.
68. Sindroma Bayi Terguncang
69. Guncangan pada bayi menimbulkan cidera ekslersi deselersi pada otak, menyebabkanregangan dan pecahnya pembuluh darah. Hal ini dapat menimbulkan cidera berat padasystem saraf pusat, tanpa perlu bukti-bukti cidera eksternal.
70.
71. Fraktur dan Dislokasi yang Tidak Dapat Dijelaskan
72. Fraktur Iga Posterior dalam berbagai tahap penyembuhan, fraktur spiral atau dislokasikarena terpelintirnya ekstremitas merupakan bukti cidera pada anak yang tidak terjadisecara kebetulan.Menurut
73. American Academy Of Child Adolescent Psychiatry (2007)
74. anak telahmengalami penganiayaan dapat menunjukkan ciri-ciri :
75.
76. Mempunyai gambaran diri yang lemah & tidak bisa menjalankan peran
77.
78. Ketidakmampuan untuk percaya atau mencintai orang lain
79.
80. Agresif, mengganggu, dan berperilaku tidak benar
81.
82. Kemarahan dan amuk, merusak diri sendiri, pemikiran tentang bunuh diri
83.
84. Pasif, menarik diri, dan perilaku mengandung kutukan
85.
86. Ketakutan melakukan aktivitas atau hubungan interpersonal yang baru
87.
88. Khawatir dan takut, merasa sedih yang berlebih atau merasa tertekan
89.
90. Permasalahan sekolah atau kegagalan dan penyalahgunaan NAPZA
91. Child AbusePage 10
92. 
93.
94.
95. Gangguan tidur, mimpi buruk Menurut
96. Child Welfare Information Gateway (2006)
97. tanda dan gejala yang seringdijumpai pada physical abuse adalah :
98. 1.
99. Anak
100. :
101.
102. Menunjukkan adanya perubahan yang mendadak di dalam perilaku atau prestasi sekolah
103.
104. Belum atau tidak menerima bantuan baik secara fisik maupun permasalahan medis yang seharusnya diberikan oleh orang tua
105.
106. Selalu dalam kewaspadaan seolah-olah bersiap mengahadapi sesuatu yangtidak menyenangkan/mengancamnya akan terjadi
107.
108. Menuntut yang berlebihan, pasif, menarik diri
109.
110. Datang ke sekolah dan aktifitas lain lebih awal dan pulang terlambat(seperti ingin pergi dari rumah).
111. 2.
112. Orang tua
113. :
114.
115. Pengawasan orang tua yang kurang, menunjukkan perhatian yang sedikit pada anak
116.
117. Menyangkal keberadaan anak dan menyalahkan anak baik tentang permasalahan di sekolah maupun di rumah
118.
119. Meminta pada guru atau pejabat di sekolah untuk menggunakan kekerasanfisik dalam menegakkan disiplin pada anak yang berbuat nakal/jahat
120.
121. Selalu melihat anak tidak baik, tidak berharga atau membebani
122. Child AbusePage 11
123. 
124.
125.
126. Menuntut tingkatan fisik serta pencapaian akademis yang tidak mungkindicapai oleh anak.
127. 3.
128. Orang tua dan anak
129. :
130.
131. Jarang bersentuhan atau saling berpandangan
132.
133. Memandang hubungan antara orang tua dan anak sebagai hal negatif seluruhnya
134.
135. Mengatakan tidak suka satu sama lain.
136. F.Evaluasi Diagnostik
137. Diagnostik perlakuan salah dapat ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik yang teliti, dokumentasi riwayat psikologik yang lengkap, danlaboratorium.
138. •
139. Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik -Penganiayaan fisik Tanda patogomonik akibat penganiayaan anak dapat berupa:
140.
141. Luka memar, terutama di wajah, bibir, mulut, telinga, kepala, atau punggung.
142.
143. Luka bakar yang patogomonik dan sering terjadi: rokok, pencelupan kaki-tangan dalam air panas, atau luka bakar berbentuk lingkaran pada bokong.Luka bakar akibat aliran listrik seperti oven atau setrika.
144.
145. Trauma kepala, seperti fraktur tengkorak, trauma intrakranial, perdarahanretina, dan fraktur tulang panjang yang multipel dengan tingkat penyembuhanyang berbeda.
146. Child AbusePage 12
147. 
148.
149.
150. Trauma abdomen dan toraks lebih jarang dibanding trauma kepala dan tulang pada penganiayaan anak. Penganiayaan fisik lebih dominan pada anak di atasusia 2 tahun.-Pengabaian
151.
152. Pengabaian non organic failure to thrive, yaitu suatu kondisi yangmengakibatkan kegagalan mengikuti pola pertumbuhan dan perkembangananak yang seharusnya, tetapi respons baik terhadap pemenuhan makanan dankebutuhan emosi anak.
153.
154. Pengabaian medis, yaitu tidak mendapat pengobatan yang memadai padaanak penderita penyakit kronik karena orangtua menyangkal anak menderita penyakit kronik. Tidak mampu imunisasi dan perawatan kesehatan lainnya.Kegagalan yang disengaja oleh orangtua juga mencakup kelalaian merawatkesehatan gigi dan mulut anak sehingga mengalami kerusakan gigi.-Penganiayaan seksualTanda dan gejala dari penganiayaan seksual terdiri dari:
155.
156. Nyeri vagina, anus, dan penis serta adanya perdarahan atau sekret di vagina.
157.
158. Disuria kronik, enuresis, konstipasi atau encopresis.
159.
160. Pubertas prematur pada wanita
161.
162. Tingkah laku yang spesifik: melakukan aktivitas seksual dengan temansebaya, binatang, atau objek tertentu. Tidak sesuai dengan pengetahuanseksual dengan umur anak serta tingkah laku yang menggairahkan.
163. Child AbusePage 13
164. 
165.
166.
167. Tingkah laku yang tidak spesifik: percobaan bunuh diri, perasaan takut padaorang dewasa, mimpi buruk, gangguan tidur, menarik diri, rendah diri,depresi, gangguan stres post-traumatik, prostitusi, gangguan makan, dsb.
168. •
169. LaboratoriumJika dijumpai luka memar, perlu dilakukan skrining perdarahan. Pada penganiayaanseksual, dilakukan pemeriksaan:
170.
171. Swab untuk analisa asam fosfatase, spermatozoa dalam 72 jam setelah penganiayaan seksual.
172.
173. Kultur spesimen dari oral, anal, dan vaginal untuk genokokus
174.
175. Tes untuk sifilis, HIV, dan hepatitis B
176.
177. Analisa rambut pubis
178. •
179. RadiologiAda dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada anak,yaitu untuk:
180.
181. Identifiaksi fokus dari jejas
182.
183. DokumentasiPemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya dilakukanuntuk meneliti tulang, sedangkan pada anak diatas 4-5 tahun hanya perlu dilakukan jika ada rasa nyeri tulang, keterbatasan dalam pergerakan pada saat pemeriksaanfisik. Adanya fraktur multiple dengan tingkat penyembuhan adanya penyaniayaanfisik.
184. Child AbusePage 14
185. 
186.
187. •
188. CT-scan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan kronik, hanyadiindikasikan pada pengniayaan anak atau seorang bayi yang mengalami traumakepala yang berat.
189. •
190. MRI (Magnetik Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang subakut dan kronik seperti perdarahan subdural dan sub arakhnoid.
191. •
192. Ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi visceral
193. •
194. Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang mengalami penganiayaanseksual.
195. G.Penatalaksanaan
196. Pencegahan dan penanggulangan penganiayaan dan kekerasan pada anak adalah melalui:1.Pelayanan kesehatanPelayanan kesehatan dapat melakukan berbagai kegiatan dan program yang ditujukan pada individu, keluarga, dan masyarakat.
197. •
198. Prevensi primer-tujuan: promosi orangtua dan keluarga sejahteraIndividu :-Pendidikan kehidupan keluarga di sekolah, tempat ibadah, dan masyarakat-Pendidikan pada anak tentang cara penyelesaian konflik -Pendidikan seksual pada remaja yang beresiko-Pendidikan perawatan bayi bagi remaja yang merawat bayi-Pelayanan referensi perawatan jiwa-Pelatihan bagi tenaga profesional untuk deteksi dini perilaku kekerasan.
199. Child AbusePage 15
200. 
201.
202. Keluarga :-Kelas persiapan menjadi orangtua di RS, sekolah, institusi di masyarakat
203. -
204. Memfasilitasi jalinan kasih 16ocial pada orangtua baru-Rujuk orangtua baru pada perawat Puskesmas untuk tindak lanjut (follow up)
205. -
206. Pelayanan 16ocial untuk keluargaKomunitas :-Pendidikan kesehatan tentang kekerasan dalam keluarga-Mengurangi media yang berisi kekerasan-Mengembangkan pelayanan dukungan masyarakat, seperti: pelayanan krisis,tempat penampungan anak/keluarga/usia lanjut/wanita yang dianiaya-Kontrol pemegang senjata api dan tajam
207. •
208. Prevensi sekunder-tujuan: diagnosa dan tindakan bagi keluarga yang stressIndividu :-Pengkajian yang lengkap pada tiap kejadian kekerasan pada keluarga padatiap pelayanan kesehatan-Rencana penyelamatan diri bagi korban secara adekuat-Pengetahuan tentang hukuman untuk meminta bantuan dan perlindungan-Tempat perawatan atau “Foster home” untuk korbanKeluarga :-Pelayanan masyarakat untuk individu dan keluarga
209. Child AbusePage 16
210. 
211.
212. -Rujuk pada kelompok pendukung di masyarakat (self-help-group). Misalnya:kelompok pemerhati keluarga sejahtera-Rujuk pada lembaga/institusi di masyarakat yang memberikan pelayanan pada korbanKomunitas :-Semua profesi kesehatan terampil memberikan pelayanan pada korbandengan standar prosedur dalam menolong korban-Unit gawat darurat dan unit pelayanan 24 jam memberi respon, melaporkan, pelayanan kasus, koordinasi dengan penegak hukum/dinas sosial untuk pelayanan segera.-Tim pemeriksa mayat akibat kecelakaan/cedera khususnya bayi dan anak.-Peran serta pemerintah: polisi, pengadilan, dan pemerintah setempat-Pendekatan epidemiologi untuk evaluasi-Kontrol pemegang senjata api dan tajam
213. •
214. Prevensi tertier-tujuan: redukasi dan rehabilitasi keluarga dengan kekerasanIndividu :-Strategi pemulihan kekuatan dan percaya diri bagi korban-Konseling profesional pada individuKeluarga :-Redukasi orangtua dalam pola asuh anak -Konseling profesional bagi keluarga-Self-help-group (kelompok peduli)Komunitas :
215. Child AbusePage 17
216. 
217.
218. -“Foster home”, tempat perlindungan-Peran serta pemerintah-“follow up” pada kasus penganiayaan dan kekerasan-Kontrol pemegang senjata api dan tajam2.PendidikanSekolah mempunyai hak istimewa dalam mengajarkan bagian badan yang sangat pribadi, yaitu penis, vagina, anus, mammae dalam pelajaran biologi. Perluditekankan bahwa bagian tersebut sifatnya sangat pribadi dan harud dijaga agar tidak diganggu orang lain. Sekolah juga perlu meningkatkan keamanan anak di sekolah.Sikap atau cara mendidik anak juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi aniayaemosional. Guru juga dapat membantu mendeteksi tanda2 aniaya fisik dan pengabaian perawatan pada anak.3.Penegak hukum dan keamananHendaknya UU no.4 thn 1979, tentang kesejahteraan anak cepat ditegakkansecara konsekuen. Hal ini akan melindungi anak dari semua bentuk penganiayaandan kekerasan. Bab II pasal 2 menyebutkan bahwa “anak berhak atas perlindunganterhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar.4.Media massaPemberitaan penganiayaan dan kekerasan pada anak hendaknya diikuti olehartikel2 pencegahan dan penanggulangannya. Dampak pada anak baik jangka pendek maupun jangka panjang diberitakan agar program pencegahan lebih ditekankan.
219. Child AbusePage 18
220. 
221.
222. ASUHAN KEPERAWATAN PADA CHILD ABUSE
223. A.
224. PengkajianFokus pengkajian secara keseluruhan untuk menegakkan diagnosa keperawatan berkaitandengan child abuse, antara lain :
225. 1.
226. Psikososial :
227. •
228. Melalaikan diri (neglect), baju dan rambut kotor, bau
229. •
230. Gagal tumbuh dengan baik
231. •
232. Keterlambatan perkembangan tingkat kognitif, psikomotor, dan psikososial
233. •
234. With drawl (memisahkan diri) dari orang2 dewasa2.Muskuloskeletal
235. •
236. Fraktur
237. •
238. Dislokasi
239. •
240. Keseleo (sprain)3.Genito Urinaria
241. •
242. Infeksi saluran kemih
243. •
244. Perdarahan per vagina
245. •
246. Luka pada vagina/penis
247. Child AbusePage 19
248. 
249.
250. •
251. Nyeri waktu miksi
252. •
253. Laserasi pada organ genetalia eksternal, vagina, dan anus4.Integumen
254. •
255. Lesi sirkulasi (biasanya pada kasus luka bakar oleh karena rokok)
256. •
257. Luka bakar pada kulit, memar dan abrasi
258. •
259. Adanya tanda2 gigitan manusia yang tidak dapat dijelaskan
260. •
261. Bengkak
262. Child AbusePage 20
263. 
264.
265. B.Diagnosa Keperawatan1.Resiko tinggi cedera berhubungan dengan perilaku agresif, perilaku anti sosial, penyalahgunaan obat, percobaan bunuh diri, masalah disekolah dan pekerjaan.2.Tidak efektifnya koping keluarga; kompromi berhubungan dengan faktor-faktor yangmenyebabkan Child Abuse
266. 3.
267. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan anak berhubungan dengan tidak adekuatnya perawatan
268. 4.
269. Resiko perilaku kekerasan oleh anggota keluarga yang lain ber-hubungan dengan kela-kuan yang maladaptive.5.Peran orang tua berubah berhubungan dengan ikatan keluarga yang terganggu.C.Intervensi Keperawatan
270. 1.
271. DK : Resti cidera b/d perilaku agresif
272. Tujuan : Anak tidak mengalami cedera.Intervensi keperawatan :Intervensi Rasional1.Lindungi anak dari cedera lebihlanjutMenghindari anak dari cedera/luka yanglebih parah dan meminimalkan dampak psikologis yang ditimbulkan.2.Bantu diagnosis penganiayaan anak : fisik, seksual / emosionalMembantu dalam menentukan altenatif tindakan yang tepat untuk menghindari penganiayaan anak lebih lanjut.3.Laporkan kecurigaan adanya Dengan melaporkan adanya kecurigaan
273. Child AbusePage 21
274. 
275.
276. penganiayaanadanya penganiayaan anak sepertiluka pada kulit dapat mencegahterjadinya cedera yang lebih serius pada anak serta mencegah kematian anak.4.Lakukan resusitasi dan stabilisasiseperlunyaResusitasi dan stabilisasi dilakukan ketikaanak mendapatkan penganiayaan yangmenyebabkan mengalami hentinafas, dilakukan sampai stabil dandibawa ke rumah sakit.
277. 2.DK : Tidak efektifnya koping keluarga; kompromi berhubungan denganfaktor- faktor yang menyebabkan Child Abuse
278. Tujuan : Mekanisme koping keluarga menjadi efektif Intervensi keperawatan:
279. IntervensiRasional
280. 1.
281. Identifikasi faktor-faktor yangmenyebabkan rusaknya mekanismekoping pada keluarga, usia orang tua, anak ke berapa dalam keluarga, status sosialekonomi terhadap perkembangankeluarga, adanya support system dankejadian lainnyaDengan mengidentifikasi faktor-faktor yang dilakukan intervensi yangdibutuhkan dan penyerahan pada pejabatyang berwenang pada pelayanankesehatan dan organisasi social
282. 2.
283. Konsulkan pada pekerja sosial dan pelayanan kesehatan pribadi yang tepatmengenai problem keluarga, tawarkanterapi untuk individu atau keluargaKeluarga dengan Child Abuse & neglect biasanya memerlukan kerja sama multidisiplin, support kelompok dapatmembantu, memecahkan masalah yangspesifik.
284. 3.
285. Dorong anak dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang apayang mungkin menyebabkan perilakuDengan mendorong keluarga denganmendiskusikan masalah mereka makadapat dicari jalan keluar untuk
286. Child AbusePage 22
287. 

288.
289. kekerasan. memodifikasi perilaku mereka.
290. 4.
291. Ajarkan orang tua tentang perkembangan & pertum-buhan anak sesuai tingkat umur. Ajarkan kemampuanmerawat spesifik dan terapkan tehnik disiplinOrang tua mungkin mempunyai harapanyang tidak realistis tentang pertumbuhandan perkem-bangan anak
292. 3.
293. DK: Perubahan pertumbuhan dan perkembangan anak berhubungan dengan tidak adekuatnya perawatan
294. Tujuan : Perkembangan kognitif anak, psikomotor dan psikososial dapat disesuai-kandengan tingkatan umurnyaIntervensi Keperawatan:
295. IntervensiRasional
296. 1.Diskusikan hasil test kepadaorang tua dan anak Orang tua dan anak akan menyadari, sehinggamereka dapat merencanakan tujuan jangka panjangdan jangka pendek 2.Melakukan aktivitas (seperti,membaca, bermain sepeda, dll)antara orang tua dan anak untuk meningkatkan per-kembangan dari penurunan kemampuan kognitif psikomotor dan psikososialKekerasan pada anak akan menyebabkanketerlambatan perkembangan karena tugaskeluarga. Aktivitas dapat engkoreksi masalah perkembangan akibat dari hubungan yangterganggu3.Tentukan tahap perkembang-ananak seperti 1 bulan, 2 bulan, 6 bulan dan 1 tahun.Dengan menentukan tahap perkembangan anak dapat membantu perkembangan yang diharapkan4.Libatkan keterlambatan per-kembangan dan pertumbuhan yangnormalProgram stimulasi dapat membantu meningkatkan perkembangan menentukan intervensi yang tepat
297. Child AbusePage 23
298. 

299.
300. 4.
301. DK : Resiko perilaku kekerasan oleh anggota ke-luarga yang lain berhubungandengan kelakuan yang maladaptive.
302. Tujuan : Perilaku kekerasan pada keluarga dapat berkurang.Intervensi Keperawatan :
303. IntervensiRasional
304. 1.Identifikasi perilaku kekeras-an,saat menggunakan/ mengkonsumsialkohol atau obat atau saatmenganggur.Dengan mengidentifikasi perilaku kekerasandapat membantu menentukan intervensi yangtepat2.Selidiki faktor yang dapatmempengaruhi perilaku kekerasanseperti minum alkohol atau obat-obatanDengan mengidentifikasi faktor-faktor yangmenye-babkan perilaku kekerasan akan lebihmemberikan kesadaran akan tipe situasi yangmempengaruhi perilku, membantu dirinyamencegah kekambuhan3.Lakukan konsuling kerjasamamultidisiplin, termasuk organisasikomunitas dan psikolologis.konseling dapat membantu perkembangankoping yang efektif.4.Menyarankan keluarga kepadaseorang terapi keluarga yang tepatTerapi keluarga menekan dan memberikansupport kepada seluruh keluarga untuk mencegah kebiasaan yang terdahulu.5.Melaporkan seluruh kejadianyang aktual yang mungkin terjadikepada pejabat berwenangPerawat mempunyai tang-gung jawab legaluntuk melaporkan semua kasus dan menyimpankeakuratan data untuk investigasi
305. 5.DK : Peran orang tua berubah berhubungan dengan ikatan keluarga yang terganggu.
306. Tujuan : Perilaku orang tua yang kasar dapat menjadi lebih efektif
307. Child AbusePage 24
308. 

309.
310. Intervensi Keperawatan :
311. IntervensiRasional
312. 1.Diskusikan ikatan yang wajar dan perikatan dengan orang tua yangkerasMenyadarkan orang tua akan perikatan normaldan proses pengikatan akan membantu dalammengembangkan keahlian menjadi orang tuayang tepat2.Berikan model peranan untuk orang tuaModel peranan untuk orang tua,memungkinkan orang tua untuk menciptakan perilaku orang tua yang tepat3.Dukung pasien untuk mendaftarkan dalam kelas yangmengajarkan keahlian orang tuatepatKelas akan memberikan teladan & forum praktek untuk mengembangkan keahlian orangtua yang efektif 4.Arahkan orang tua ke pelayanankesehatan yang tepat untuk konsultasi dan intervensi seperlunyaKelas akan memberikan teladan & forum praktek untuk mengembangkan keahlian orangtua yang efektif.
313. Child AbusePage 25
314. 

315.
316. D.Evaluasi
317. 1.
318. Anak tidak mengalami cedera
319. 2.
320. Mekanisme koping keluarga menjadi efektif
321. 3.
322. Perkembangan kognitif anak, psikomotor dan psikososial dapat disesuaikan dengantingkatan umurnya
323. 4.
324. Perilaku kekerasan pada keluarga dapat berkurang
325. 5.
326. Perilaku orang tua yang kasar dapat menjadi lebih efektif
327. Child AbusePage 26
328. 
329.
330. BAB IIIKAJIAN KASUS
331. 1. PengkajianPengkajian dilakukan pada tanggal 23-Oktober 2010 pukul 10.00 witadi ruang Drupadi BPK RSJ Propinsi Bali di Bangli. Pengumpilan datadilakul:an dengan cara anamnesa, observasi dan catatan medik klicndan kunjungan rumaai sehingga didapat data :a. Pengumpulan Data1) Identitas :Klien PenanggungNama :ARD.PUmur :12 tahun35 tahun Jenis kelamin:Laki-laki Laki-lakiAgama :HinduHinduPendidikan : SD tidak tamatSDPekerjaan :-WiraswastaStatus perkawinan:Belum menikah MenikahSuku/Bangsa:Bali/Indonesia Bali/Indonesia
332. Child AbusePage 27
333. 
334.
335. Alamat :Br. Pasaban KalerBr. Pasaban KalerDs. Pesaban, kecDs. Pesaban, kecRendang RendangKarangasemKarangasemNo CM :108264Hub. Dengan klien:Paman
336. Child AbusePage 28
337. 
338.
339. 2) Alasan Masuka) Keluhan saat MRSKlien datang ke IRD BPK RSJ Propinsi Bali diantar oleh keluarga kliendikeluhkan suka mengurung diri di kamar, sering menangis, ketawadan bicara sendiri. Klien juga mengamuk dengan membantingbarang disekitarnya bila didekati oleh keluarganya. Karena tidak bisadiatasi maka keluarga langsung mengajak klien ke IRD BPK RSJPropinsi Bali dan disarankan MRS. Dan mendapatkan terapi injeksilodorner IM I ampul dan diazepam injeksi IV 1 ampul.b) Keluhan saat pengkajianklien lebih banyak diam, klien hanya mau menjawab pertanyaan yangdiajukan dengan singkat. Klien selalu menundukkan kepala saatberbicara dengan perawat kontak mata kurang serta jarangberinteraksi dengan orang lain.3) Fantor Prcdisposisi dan PresipitasiKlien sebelumnya belum pernah mengalami sakit jiwa dan pertama kalidirawat di RSJ Bangli. Klien mempunyai pengalaman yang tidakmenyenangkan yaitu semenjak umur 8 tahun ditinggal orang tuanyamenjadi TKW keluar negeri dan tidak pulang-pulang. Sehingga klien danadikanya diasuh oleh neneknya. Ekonomi nenek klien sangat kekurang,oleh karena itu sejak kecil klien diajak jualan sayur keliling kampung, dan
340. Child AbusePage 29
341. 
342.
343. pasien merasa sangat malu akan hal itu. Klien hanya sekolah sampai kelas4 SD karena tidak punya biaya, dari faktor keturunan tidak ada keluargayang mengalami gangguan jiwa. Sedangkan faktor presipitasinya yakniklien ditinggal menikah oleh orang yang dicintainya (± 3 minggu sebelumMRS). Sejak saat ini klien mulai murung, senang menyendiri dan bengong-bengong. Klien juga pernah mengamuk karena kecewa dengan orangtuanya yang tega menelantarkan anak-anak mereka. .4)Pemeriksaan Fisika)Tanda Vital Tekanan darah :120/80 mm HgNadi :80 x/menitSuhu :37
344. o
345. CPernafasan :24 x/menitb)PengukuranBB:42 TB:157 cmc)Keluhan fisik :Tidak ada
346. Child AbusePage 30
347. 
348.
349. 1)Status Psikososial1)GenogramKeterangan: Laki-laki:Perempuan:Meninggal:Umur klien:Klien:Tinggal serumahGambar 4 : Genogram klien AR dengan gangguan hubungan sosial :menarik diri.Penjelasan :
350. Child AbusePage 311212
352.
353. Klien adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Klien berumur12 tahun, klien tinggal serumah dengan ayah, ibu dan dua orangadiknya serta neneknya. Hubungan klien dengan keluarga kurangterjalin semenjak ditinggal ortunya TKW dan klien lebih dekatdengan neneknya.b) Konsep Diri(1)Citra TubuhKlien menganggap dirinya biasa saja dan menerima tubuhnya apaadanya tapi klien tidak suka dengan rambutnya yang kriting dansudah pernah diluruskan tapi setelah itu kriting lagi.(2)Identitas DiriKlien menyadari dirinya dan merasa kurang puas dengankeadaannya tersebut.
354. (3)
355. Peran DiriSebelum dirawat, klien berperan sebagai seorang anak tertuadari tigabersaudara dan setelah dirawat klien berperan sebagai pasien dancukup kooperatif dalam proses pengobatan.(4)Ideal Diri
356. Child AbusePage 32
357. 
358.
359. Harapan klien sebelum sakit adalah ingin seperti anak lain yaknidiasuh oleh orang tua dan sekolah tinggi, karena klien ingin menjadipolisi t.(5)Harapan DiriKlien merasa rendah diri karena rambutnya kriting klien merasa maludengan pendidikannya belum tamat SD.klien bisa baca tapi tidaklancar, sehingga klien merasa malu bergaul dengan temannya.c) Hubungan Sosial(1)Klien mengatakan di rumah hanya dekat dengan neneknya tapi di rumahsakit klien tidak mempunyai teman dekat.(2) Hubungan klien dengan perawat dan temannya kurang, klien hanyaberbicara seperlunya apabila ditanya oleh perawat.6)Status Mentala) PenampilanKlien berpenampilan tidak rapi, pakaian yang digunakan kotor dan acak- acakan, rambut klien tamapak tidak terawat.b)PembicaraanKlien berbicara lambat, klien tidak mampu memulai pembicaraan selamaproses wawancara klien berbicara hanya ditanya oleh perawat danseperlunya.
360. Child AbusePage 33
361. 
362.
363. c)Aktivitas MotorikKlien tampak lesu dan tidak bergairah pada saat diwawancarai danbanyak menunduk.d)Alam PerasaanSaat wawancara klien tampak sedih, murung.e) EfekDari hasil observasi efek yang ditunjukan adalah efek tumpul yaituhanya mererspon saat ada stimulus yang kuat.f)Interaksi Selama WawancaraSelama wawancara klien mau menjawab sebatas pertanyan yangdiberikan, kontak mata antara klien dengan perawat kurang dan klientampak lebih banyak menunduk.g) PersepsiKlien mengatakan kadang mendengar suara-suara kurang jelas isinyadan siapa yang berbicara. Saat pengkaji klien mengatakan mendengarsuara dan memiringkan telinga.h) Proses PikirPada saat wawancara pembicara klien lambat dan berbata-bata tapi bisamenjawab sesuai dengan pertanyaan perawat.
364. Child AbusePage 34
365. 
366.
367. i)Isi PikirSaat pengkajian klien tidak mennjukan gangguan isi pikir seperti wahamdan phobia.
368. Child AbusePage 35
369. 
370.
371. j) Tingkat KesadaranDari hasil observasi dan wawancara klien tidak mengalami disorientasiwaktu, tempat dan orang.k) MemoriKlien tidak mengalami kesulitan untuk mengingat baik memori jangkapendek atau jangka panjang tentang peristiwa yang terjadi pada dirinya.l) Tingkat konsentrasi dan berhitungSelama wawancara klien agak sulit berkonsentrasi, saat ditanya 1 + 5klien bisa menjawab dengan benar yaitu tetapi dalam waktu yangsangat lama.m) Kemampuan penelitianSaat diberikan pilihan seperti apakah klien mengambil pasta gigi dahuluatau menggosok gigi, klien menjawab mengambil pasta gigi dahulu barumenggosok gigi.n) Daya tilik diriKlien menyadari dirinya sakit dan perlu perawatan dan pengobatan.7)Kebutuhan persiapan pulanga)Makan dan Minum
372. Child AbusePage 36
373. 
374.
375. Klien mengatakan biasa makan 3 kali sehari habis satu porsi tiap kalimakan. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makannya,meskipun masih perlu bantuan keluarganya.b)BAB dan BAK Klien mampu menggunakan dan membersihkan WC, sehabis BAB danBAK serta mampu membersihkan diri dan merapikan rambut.c)MandiKlien memerlukan batuan dalam hal mandi klien mandi 1 x seharid)BerpakaianKlien mampu mengambil dan memilih pakaian yang sesuai situasi dankondisi. Klien menggunakan alas kaki dan menyisir rambut. Nilaikemampuan klien dalam berpakaian cukup.e)Istirahat dan tidurKlien biasa tidur siang malam mulai pukul 23.00 sampai 06.00 Wita.f)Penggunaan obatKlien mau minum obat yang diberikan oleh perawat sesuai denganwaktunya dan tidak mengalami efek sampin.g)Pemeliharaan kesehatanSistem pendukung yang dimiliki adalah keluarga. Jika klien sembuhkeluarga mengatakan akan tetap mengajak klien kontrol ke RSJ Prov. Balidi Bangli.
376. Child AbusePage 37
377. 
378.
379. h)Aktivitas dalam rumahKlien mampu melaksanakan aktivitas di dalam rumah seperti menyapuhalaman rumah.i)Aktivitas di luar rumahKlien mengatakan belum siap jika sudah pulang untuk melakukankegiatan diluar rumah seperti ke pasar atau kegiatan ada.8)Mekanisme kopingKlien menggunakan koping maladaptif yaitu represi dan isolasi dimana bilamempunyai masalah klien tidak pernah menceritakan masalah kepadasiapapun dengan mencoba mengesampingan/melupakan permasalahannya.Namun dengan cara-cara tersebut tidak akan menyelesaikanpermasalahannya9)Masalah psikososial dan lingkunganKlien tinggal bersama ayah, ibu dan adik serta neneknya, setelah ditinggalorang tuanya TKW lebih dekat dengan neneknya.10)PengetahuanKlien tahu bahwa dirinya sakit dan sedang mendapatkan perawatan danpengobatan. Tapi klien tidak tahu sistem pendukung dan koping mekanismeyang diperlukan untuk mengatasi masalahnya.11)Aspek medisDiagnosa:Skizofrenia Hebefrenik
380. Child AbusePage 38
381. 
382.
383. Therapi Medis: Chlorpromazine2 x 50 mg Trihezyphenidryl1 x 1 mgStelazine2 x 2.5 mgb.Analisa DataData yang sudah didapat dari pengkajian selanjutnya dianalisis dengan caramengelompokkannya menjadi data objektif dan data subjektif.
384. Child AbusePage 39
385. 
386.
387. TABEL IANALISA DATA KEPERAWATAN PASIEN ARDENGAN KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL MENARIK DIRIDI RUANG DRUPADI BPK RSJ PROPINSI BALITANGGAL 10 JUNI 2008
388. NoData SubyektifData ObyektifKesimpulan
389. 12341
390. -
391. Klien mengatakan lebihsenang menyendiri daripada berinteraksidengan orang lain.
392. -
393. Klien tidak mengatakantidak mempunyaiteman dekat di RS
394. -
395. Klien jarangberinteraksi denganpasien lain ataudengan petugas
396. -
397. Kontak verbalpasif/tidak bisamemulaipembicaraan
398. -
399. Kontak matakurang/lebih seringmununduk efektumpul, klientampak putus asaKerusakaninteraksisosialmenarik diri2
400. -
401. Klien mengatakankadang-kadangmendengarkan suara-suara yang tidak jelas
402. -
403. Kadang-kadang klientampakmemiringkan telingake arah tertentuseolah-olah sedangmendengarkansesuatuPerubahanpersepsisensorihalusinasidengar3
404. -
405. Klien mengatakanmalu/minder denganrambutnya yang kriting
406. -
407. Klien mengatakan maludengan pendidikannyahanya tamat SD
408. -
409. Klien mengatakansering mengalamikegagalan dalampekerjaan
410. -
411. Klien merasa sedih danrendah diri karenaditinggal kawin olehorang yang dicintainya.
412. -
413. Kontak matakurang/seringmenunduk
414. -
415. Klien seringmembesarkan halnegatif pada dirinyaHarga dirirendahChild AbusePage 40
416. 
417.
418. 4
419. -
420. Klien mengatakan bilaada masalah/stres lebihsenang memendamnyadengan mencobamelupakan seolahtidak masalah
421. -
422. Klien seringmenggunakankoping maladaptif tanpa mencobauntukmenyelesaikannyaKopingindividu takefektif Child AbusePage 41
423. 

424.
425. c.Rumusan Masalah1)Kerusakan interaksi sosial : menarik diri2)Perubahan persepsi sensori : halusinasi dengar3)Harga diri rendah4)Koping individu tak efektif.d.Pohon MasalahDari rumusan masalah tersebut maka dibuatlah pohon masalah sebagaiberikut:Gambar 4 : Pohon masalah pada klien AR dengan kerusakan interaksi sosial :menarik dirie.Diagnosa Keperawatan1)Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan denganharga diri rendah ditandai dengan klien mengatakan tidak mempunyaiteman dekat di RS, klien mengatakan lebih senang menyendiri daripada
426. Child AbusePage 42
427. Koping Individu Takefektif Kerusakan interaksi sosial : menarikdiriPerubahan Persepsi Sensori : HalusinasiDengarGangguan konsep diri : Harga dirirendah kronisEfekCPCause
428. 

2) mobilitas, isolasi, dan perumahan tidak memadai
ketiga faktor ini juga berpengaruh besar terhadap terjadinya kekerasan pada anak, sebab lingkungan sekitarlah yang menjadi faktor terbesar dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku anak.
3) Perceraian
Perceraian mengakibatkan stres pada anak, sebab anak akan kehilangan kasih sayang dari kedua orangtua.
4) Anak yang tidak di harapkan
Hal ini juga akanmengakibatkan munculnya perilaku kekerasan pada anak, sebab anak tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orangtua, misalnya kekurangan fisik, lemah mental, dsb.
3. Stress berasal dari orangtua
a) Rendah diri, anak dengan rendah diri akan sering mendapatkan kekerasan, sebabanak selalu merasa dirinya tidak berguna dan selalu mengecewakan orang lain.
b) Waktu kecil mendapat perlakuan salah, orangtua yang mengalami perlakuansalah pada masa kecil akan melakuakan hal yang sama terhadap orang lain atau anaknya sebagai bentuk pelampiasan atas kejadian yang pernah dialaminya.
c) Harapan pada anak yang tidak realistis, harapan yang tidak realistis akan membuat orang tua mengalami stres berat sehingga ketika tidak mampu memenuhi kebutuhan anaknya, orang tua cenderung menjadikan anak sebagai pelampiasan kekesalannya dengan melakukan tindakan kekerasan.
2.4 MANIFESTASI KLINIS
Anak- anak yang menjadi korban child abuse rata-rata perkembangan psikologis mengalami gangguan.Mereka terlihat murung, tertutup, jarang beradaptasi dan bersosialisasi, kurang konsentrasi, dan prestasi akademik menurun (Hefler, 1976). Studi lain menemukan bahwa anak-anak usia di bawah 25 bulan yang menjadi korban child abuse, skor perkembangan kognitifnya lemah. Hal ini ditandai oleh empat perbedaan perilaku dan perkembangan anak, yakni perbuatan kognitif, penyesuaian fungsi-fungsi di sekolah, perilaku di ruang kelas.Dan perilaku di rumah (Mackner, 1997).
Anak yang berulang kali mengalami jelas pada susunan saraf pusatnya dapat mengalami keterlambatan dan keterbelakangan mental, kejang-kejang hidrosefalus, atau ataksia. Selanjutnya, keluarga-keluarga yang tidak mendapat pengobatan serta perawatan yang memadai cenderung akan menghasilkan anak remaja yang nakal dan menjadi penganiaya anak sendiri pada generasi berikutnya.
Anak yang telah mengalami penganiayaan seksual dapat menyebabkan perubahan tingkah laku dan emosi anak, antara lain depresi, percobaan bunuh diri. Gangguan stress post traumatik, dan penggunaan makan. Seorang anak laki-laki korban penganiayaan seksual di kemudian hari.
Wanita yang secara fisik mengalami kekerasan pada waktu anak-anak akan dua kali lebih tinggi rentan atas penyakit atau gejala kegagalan untuk makan. Sebuah dampak yang membuat para wanita itu ketika beranjak dewasa mengalami masalah dengan mengkonsumsi makanan.Namun dampak yang paling besar dialami adalah akibat perlakuan keras dan pelecehan seksual saat mereka masih gadis.Kekerasan saat kecil memang sudah lama menjadi satu faktor penyebab timbulnya gejala atau penyakit sulit makan seperti anorexia dan bulimia. Gejala bulimia ini pernah dialami oleh mendiang Putri Wales, Putri Diana yang stress akibat perlakuan yang diterimanya. Gejala anorexia dan bulimia hampir terjadi pada semua responden wanita dimana 102 wanita memiliki gejala yang jelas sementara 42 wanita lainnya harus melakukan konsultasi dengan dokter mengenai gejala yang mereka alami. Seorang gadis akan mengalami gejala perlakuan keras semasa kecil. Bahkan resiko itu akan naik tiga hingga empat kali pada wanita yang mengalami kekerasan fisik dan seksual sekaligus.
2.5 Tanda dan gejala
Tanda fisik yang bisa dijumpai pada physical abuse :
Cidera Kulit
Cidera kulit adalah tanda-tanda penganiayaan anak yang paling umum dan paling mudah dikenali. Bekas gigitan manusia tanpak sebagai daerah lonjong dengan bekas gigitan dan hisapan atau tanda dorongan lidah. Memar multipel atau memar pada daerah-daerah yang tidak terjangkau menunjukan bahwa anak itu telah mengalami penganiayaan. Memar yang ada dalam berbagai tahap penyembuhan menunjukkanadanya trauma yang terjadi berulang kali. Memar berbentuk objek yang dapat dikenaliumumnya bukan suatu kebetulan.
Kerontokan Rambut Traumatik
Kerontokan rambut traumatik terjadi ketika rambut anak ditarik, atau dipakai untuk menyeret atau menyentak anak. Akibatnya pada kulit kepala dapat memecahkan pembuluh darah di bawah kulit. Adanya akumulasi darah dapat membantu membedakan antara kerontokan rambut akibat penganiayaan atau non-penganiayaan.
Jatuh
Jika seorang anak dilaporkan mengalami kejatuhan biasa, namun yang tampak adalahcidera yang tidak biasa, maka ketidaksesuaian riwayat dengan trauma yang dialamitersebut menimbulkan kecurigaan adanya penganiayaan terhadap anak.
Cidera Eksternal pada Kepala, Muka dan Mulut
Luka, perdarahan, kemerahan atau pembengkakan pada kanal telinga luar, bibir pecah- pecah, gigi yang goyang atau patah, laserasi pada lidah dan kedua mata biru tanpatrauma pada hidung, semuanya dapat mengindikasikan adanya penganiayaan.
Cidera Termal Disengaja atau Diketahui Sebabnya
Luka bakar terculap dengan garis batas jelas, luka bakar sirkuler kecil-kecil dan banyak dalam berbagai tahap penyembuhan, luka bakar setrikaan, luka bakar daerah popok dan luka bakar tali semuanya memberikan kesan adanya tindakan jahat yangdisengaja.
Sindroma Bayi Terguncang
Guncangan pada bayi menimbulkan cidera ekslersi deselersi pada otak, menyebabkanregangan dan pecahnya pembuluh darah. Hal ini dapat menimbulkan cidera berat padasystem saraf pusat, tanpa perlu bukti-bukti cidera eksternal.
Fraktur dan Dislokasi yang Tidak Dapat Dijelaskan
Fraktur Iga Posterior dalam berbagai tahap penyembuhan, fraktur spiral atau dislokasikarena terpelintirnya ekstremitas merupakan bukti cidera pada anak yang tidak terjadisecara kebetulan.Menurut American Academy of Child Adolescent Psychiatry (2007) anak telah mengalami penganiayaan dapat menunjukkan ciri-ciri :
Mempunyai gambaran diri yang lemah & tidak bisa menjalankan peran
Ketidakmampuan untuk percaya atau mencintai orang lain
Agresif, mengganggu, dan berperilaku tidak benar
Kemarahan dan amuk, merusak diri sendiri, pemikiran tentang bunuh diri
Pasif, menarik diri, dan perilaku mengandung kutukan
Ketakutan melakukan aktivitas atau hubungan interpersonal yang baru
Khawatir dan takut, merasa sedih yang berlebih atau merasa tertekan
Permasalahan sekolah atau kegagalan dan penyalahgunaan NAPZA
Gangguan tidur, mimpi buruk Menurut
2.6 DAMPAK CHILD ABUSE
Child abuse ini menimbulkan dampak diantaranya :
a) Anak kehilangan hak untuk menikmati masa kanak-kanaknya. Anak bisa saja kehilangan keceriaannya karena kekerasan yanga di alaminaya hingga malas untuk bermain.
b) Sering menjadi korban eksploitasi dan penindasan dari orang dewasa. Anak yang pernah menjadi korban kekerasan lagi dan semakin ditindas orang dewasa bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
c) Sering pada saat dewasa membawa dampak psikologis : labilitas emosi, prilaku agresif, tindak kekerasan, penyalahgunaan NAPZA, perilaku sex bebas, dan perilakuanti sosial.
d) Kerusakan fisik : pertumbuhan dan perkembangan tubuh kurang normal atau bahkan mengalaami kecacatan dan rusaknya sistem saraf pusat.
e) Besar kemungkinan setelah dewasa akan memberi perlakuan keras secara fisik padanya
f) Akibat yang paling fatal adalah kematian
2.7 KOMPLIKASI
1. Mengalami keterlambatan dan keterbelakangan mental
2. Kejang-kejang
3. Hidrocepalus
4. Ataksia
5. Kenakalan remaja
6. Depresi dan percobaan bunuh diri
7. Gangguan Stress post traumatic
8. Gangguan makan
2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
Jika dijumpai luka memar, perlu dilakukan skrining perdarahan pada penganiayaan seksual, dilakukan pemeriksaan.
1. Swab untuk analisa asam fosfatase, spermatozoa, dalam 72 jam setelah penganiayaan seksual.
2. Kultur spesimen dari oral, anal, dan vaginal untuk gonokokus.
3. Tes untuk sifilis, HIV, dan hepatitis B.
4. Analisa rambut pubis.
2. Radiologi
Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada anak, yaitu untuk:
1. Identifikasi fokus dari bekas
2. Dokumentasi
Pemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia dua tahun sebaiknya dilakukan untuk meneliti tulang, sedangkan pada anak di atas 4-5 tahun hanya perlu dilakukan jika ada rasa nyeri tulang, keterbatasan dalam pergerakan pada saat pemeriksaan fisik. Adanya fraktur multipel dengan tingkat penyembuhan yang berbeda, merupakan suatu kemungkinan adanya penganiayaan fisik.Ultrasonografi (USG) digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi viseral. CTscan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan kronik, hanya diindikasikan pada penganiayaan anak atau seorang bayi yang mengalami trauma kepala yang berat.
MRI (Magnetic Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang subakut.Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang mengalami penganiayaan seksual.
2.9 PENATALAKSANAAN
Karena perlakuan salah pada anak ini merupakan akibat dari penyebab yang kompleks, maka penanganan harus dilakukan oleh suatu tim dari multidisiplin ilmu yang terdiri dari dokter anak, psikiater, psikolog, petugas sosial, ahli hukum, pendidik, dan lain-lain. Seorang anak yang dicurigai mengalami penganiayaan atau pengabaian harus dirumahsakitkan, terlepas dari luas dan hebatnya jejas yang dialaminya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk melindungi anak tersebut.
Di Hongkong, Departemen Sosial atau polisi menggunakan Pengadilan Anak-anak untuk melindungi dan merawat anak tersebut. Dengan cara intervensi dari multidiplin ilmu, sekitar 80% dari keluarga mengalami perbaikan meskipun setengahnya memerlukan dukungan dalam jangka lama.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN CHILD ABUSE
3.1 pengkajian
- Riwayat keluarga dari penganiayaan anak yang lalu.
- Kecelakaan yang berulang-ulang, dengan fraktur/memar/jaringan yang berbeda waktu sembuhnya.
- Orang tua yang lambat mencari pertolongan medis.
- Orang tua yang mengaku tidak mengetahui bagaimana jelas tersebut terjadi.
- Riwayat kecelakaan dari orangtua berbeda atau berubah-ubah pada anamnesis.
- Keterangan yang tidak sesuai dengan penyebab jejas yang tampak atau stadium perkembangan anak.
- Orang tua yang mengabaikan jejas utama yang hanya membicarakan masalah kecil yang terus-menerus.
- Orangtua berpindah dari satu dokter ke dokter yang lain sampai satu saat akhir bercerita bahwa ada sesuatu yang salah dengan anak mereka.
- Penyakit anak yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.
- Anak yang gagal tumbuh tanpa alasan yang jelas.
- Anak wanita yang tiba-tiba berubah tingkah lakunya, menyendiri atau sangat takut dengan orang asing, harus diwaspadai kemungkinan terjadinya penganiayaan seksual.
- Pada anak yang lebih tua, mungkin dapat menceritakan jejasnya, tetapi kemudian mengubah uraiannya karena rasa takut akan pembalasan atau untuk mencegah pembalasan orangtua.
Pohon masalah
Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkunagn
Prilaku kekerasan / amuk
Gangguan harga diri : harga diri rendah
Data yang perlu di kaji
a) Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Ø Data subyektif
ü Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang
ü Klien suka membentak dan suka menyerang seseorang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah
ü Riwayat prilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainya
Ø Data obyektif
ü Mata merah, wajah agak merah
ü Nada suara tinggi dan agak keras,bicara menguasai : berteriak, menjerit, memukul diri sendiri / orang lain
ü Ekspresi marah saat membicarakan orang pandangan tajam
ü Merusak dan melempar barang- barang
b) Prilaku kekerasan
Ø Data subyektif
ü Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang
ü Klien suka membentak dan suka menyerang seseorang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah
ü Riwayat prilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainya
Ø Data obyektif
ü Mata merah, wajah agak merah
ü Nada suara tinggi dan agak keras,bicara menguasai : berteriak, menjerit, memukul diri sendiri / orang lain
ü Ekspresi marah saat membicarakan orang pandangan tajam
ü Merusak dan melempar barang- barang
c) Hargadiri rendah
Ø Data subyektif
Klien mengatakan : saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri
Ø Data obyektif
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila di suruh memilih alternatif tindakan, ingin mencedrai diri/ ingin mengakhiri hidup
3.2 Diagnosa keperawatan
- Resiko mencedrai diri, orang lain dan lingkungan
- Prilaku kekerasan / amuk
- Harga diri rendah
3.3 Tindakan keperawatan
Px 1. Prilaku kekerasan
v Tindakan keperawatan untuk pasien
· Tujuan
ü Pasien dapat mengidentifikasi penyebab prilaku kekerasan
ü Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda prilaku kekerasan
ü Pasien dapat menyebutkan jenis prilaku kekerasan yang pernah di lakukan
ü Pasien dapat menyebutkan akibat dari prilaku kekerasan yang dilakukannya
ü Pasien dapat menyebutkan cara mencegah atau mengontrol prilaku kekerasanya
ü Pasien dapat mencegah atau mengontrol prilaku kekerasan secara fisik, spiritual, sosian, dan dengan terapi psikofaarmaka
· Tindakan Pasien
SP Ip
1. Mengidentifikasi penyebab PK
2. Mengidentifikasi tanda dan gejala PK
3. Mengidentifikasi PK yang dilakukan
4. Mengidentifikasi akibat PK
5. Menyebutkan cara mengontrol PK
6. Membantu pasien mempraktekkan latihan cara mengontrol fisik I
7. Menganjurkan pasien memasukkan dalam kegiatan harian
SP IIp
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Melatih pasien mengontrol PK dengan cara fisik II
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
SP IIIp
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Melatih pasien mengontrol PK dengan cara verbal
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
SP IVp
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Melatih pasien mengontrol PK dengan cara spiritual
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
SP Vp
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Menjelaskan cara mengontrol PK dengan minum obat
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
v Tindakan keperawatan untuk keluarga
· Tujuan
ü Keluarga dapat merawat pasien di rumah
· Tindakan keluarga
SP I k
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian PK, tanda dan gejala, serta proses terjadinya PK
3. Menjelaskan cara merawat pasien dengan PK
SP II k
1. Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan PK
2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien PK
SP III k
1. Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning)
Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Child abuse adalah segala perlakuan buruk yang dilakuakn terhadap anaka atupun remaja oleh para orang tua,wali atau orang lain yang seharusnya memelihara dan merawat orang tersebut. Child abuse ini dapat dibagi dalam 2 jenis,yaitu di dalam keluarga dan diluar keluarga
Diagnosa keperawatan pada child abuse ditegakkan berdasarkan :
· Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
· Penganiyaan fisik
· Pemeriksaan Laboratorium
· Pemeriksaan radiologi
Pencegahan dan penanggulangan penganiayaan dan kekerasan pada anak merupakan hal serius yang segera harus dilakukan oleh semua pihak, yaitu orang tua/keluarga, pendidik, penegak hukum, penanggung jawab keamanan, mass media dan pelayanan kesehatan
Mengingat dampak penganiayaan dan kekerasan akan mengganggu proses kehidupan anak yang panjang hendaknya upaya pencegahan lebih diprioritaskan. Terlebih atas anak adalah masa depan suatu bangsa.
Diharapkan dengan adanya Undang – undang no.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ,maka angka kejadian child abuse bisa berkurang bahakan hilang dari permukaan Negara Indonesia ini.
4.2 Saran
Demikian makalah ini kami susun sebagaimana mestinya semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya sebagi tim penyusun dan bagi semua mahasiswa dan mahasiswi kesehatan pada umumya.
Kami sebagai penyusun menyadari akan keterbatasan kemampuan yang menyebabkan kekurangan sempurnaan dalam makalah ini, baik dari segi isi maupun materi, bahasa, dan lain sebagainya. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan-perbaikan selanjutnya agar makalah selanjutnya dapat lebih baik.
Daftar pustaka
1. Stuart GW, sundeen, principles and practice of psykiatric nursing (5th ed ). St.louis Mosby Year Book, 1995
2. Modul MPKP keperawatan jiwa
3. Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung, 2000
4. Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo, 2003
5. Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi 1, Jakarta : EGC, 19999
Tidak ada komentar:
Posting Komentar