Sabtu, 08 Oktober 2011

askep leukemia

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi ssel darah putih dalam sumusm tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan invasi organ non hematologis, seperti meninges, traktus gastrointesinal, ginjal dan kulit.
Leukemia meningkat dari sel batang limfoid tunggal dengan kematangan lemah dan pengumpulan sel-sel penyebab kerusakan di dalam sumsum tulang. Biasanya dijumpai tingkat pengemabangan limfoid yang berbeda dalam sumsum tulang, mulai dari yang premature hingga hampir menjadi sel normal.
Derajat kematangannya merupakan petunjuk untuk menentukan atau meramalkan kelanjutannya. Pada pemeriksaan darah tepi, ditemukan sel muda limfoblas dan biasanya terdapat leukositosis, kadang-kadang leucopenia (25%). Jumlah leukosit neutrofil  seringkali rendah, demikian kadar hemoglobin dan trombosit. Hasil pemeriksaan sumsum tulang biasanya menunjukkan sel-sel blast yang dominan. Pematangan limfosit B dimulai dari stem sel pluripoten, kemudian stem sel limfoid, pre-B, early B, sel B intermedia, sel B matang, sel plasmasitoid, dan sel plasma. Limfosit T juga berasal dari stem sel pluripoten, berkembang menjadi stem sel limfoid, sel timosit imatur, cimmom thymosit, timosit matur, serta menjadi sel limfosit T helper dan limfosif T supresor.
Peningkatan produksi leukosit juga melibatkan tempat-tempat ekstramedular sehingga anak-anak menderita pembesaran kelenjar limfe dan hepatosplenomegali. Sakit tulang juga sering dijumpai. Juga timbul serangan pada susunan saraf pusat, yaitu: sakit kepala, muntah-muntah, kejnag dan gangguan penglihatan.  




B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Menjelaskan mengenai apa yang di maksud leukimia
2.      Menjelaskan bagaimana etiologi pada klien leukimia
3.      Menjelaskan bagaimana fatofisiologi pada klien leukimia
4.      Menjelaskan masalah asuhan keperawatan pada klien leukimia.

C.    TUJUAN
Tujuan umum
Tujuan umum kami dalam menyusun makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan pembelajaran, khususnya pada mata kuliah Keperawatan imun dan hematologi yang membahas asuhan keperawatan klien dengan leukimia sehingga mahasiswa dapat memahami bagaimana asuhan keperawatan pada klien leukimia.
Tujuan khusus
1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan leukimia
2.      Mengetahui bagaimana etiologi pada klien leukimia
3.      Mengetahui bagaimana fatofisiologi pada klien leukimia
4.      Mengetahui masalah asuhan keperawatan pada klien leukimia

D.    MANFAAT
Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu untuk membantu mahasiswa dalam mengetahui bagaimana askep leukimia itu sendiri. Sehingga dapat menambah pengetahuan, khususnya dalam mata kuliah mengenai imun dan hematologi.


BAB II
PEMBAHASAN

A.  PENGERTIAN

Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi ssel darah putih dalam sumusm tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan invasi organ non hematologis, seperti meninges, traktus gastrointesinal, ginjal dan kulit.

B.     ETIOLOGI

Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia yaitu :
1.      Faktor genetik : virus tertentu meyebabkan terjadinya perubahan struktur gen ( T cell leukemia-lymphoma virus/HTLV)
2.      Radiasi ionisasi : lingkungan kerja, pranatal, pengobatan kanker sebelumnya
3.      Terpapar zat-zat kimiawi seperti benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen anti neoplastik.
4.      Obat-obat imunosupresif, obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol
5.      Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot
6.      Kelainan kromosom : Sindrom Bloom’s, trisomi 21 (Sindrom Down’s), Trisomi G (Sindrom Klinefelter’s), Sindrom fanconi’s, Kromosom Philadelphia positif, Telangiektasis ataksia.



C.    Patofisiologi
Leukemia meningkat dari sel batang limfoid tunggal dengan kematangan lemah dan pengumpulan sel-sel penyebab kerusakan di dalam sumsum tulang. Biasanya dijumpai tingkat pengemabangan limfoid yang berbeda dalam sumsum tulang, mulai dari yang premature hingga hampir menjadi sel normal.
Derajat kematangannya merupakan petunjuk untuk menentukan atau meramalkan kelanjutannya. Pada pemeriksaan darah tepi, ditemukan sel muda limfoblas dan biasanya terdapat leukositosis, kadang-kadang leucopenia (25%). Jumlah leukosit neutrofil  seringkali rendah, demikian kadar hemoglobin dan trombosit. Hasil pemeriksaan sumsum tulang biasanya menunjukkan sel-sel blast yang dominan. Pematangan limfosit B dimulai dari stem sel pluripoten, kemudian stem sel limfoid, pre-B, early B, sel B intermedia, sel B matang, sel plasmasitoid, dan sel plasma. Limfosit T juga berasal dari stem sel pluripoten, berkembang menjadi stem sel limfoid, sel timosit imatur, cimmom thymosit, timosit matur, serta menjadi sel limfosit T helper dan limfosif T supresor.
Peningkatan produksi leukosit juga melibatkan tempat-tempat ekstramedular sehingga anak-anak menderita pembesaran kelenjar limfe dan hepatosplenomegali. Sakit tulang juga sering dijumpai. Juga timbul serangan pada susunan saraf pusat, yaitu: sakit kepala, muntah-muntah, kejnag dan gangguan penglihatan.   
        
 E.     JENIS LEUKEMIA

1.      Leukemia Mielogenus Akut

AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat sesuai bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.

2.      Leukemia Mielogenus Kronis

CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu di bawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.

3. Luekemia Limfositik Akut

ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi. Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal..
 
4. Leukemia Limfositik Kronis

CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.

F.     KOMPLIKASI

1.      Infeksi yang lebih sering terjadi pada paru-paru, saluran cerna dan kulit
2.      Hemoragi akibat trombositopenia
3.      Kerusakan SSP
4.      Kerusakan tulang
5.      Kerusakan testikuler
6.      Nepropaty uretra
7.      Efek pengobatan yang lama


G. TANDA DAN GEJALA
a.    Aktivitas : kelelahan, kelemahan, malaise, kelelahan otot.
b.      Sirkulasi :palpitasi, takikardi, mur-mur jantung, membran mukosa pucat.
c.       Eliminsi : diare, nyeri tekan perianal, darah merah terang, feses hitam, penurunan haluaran urin.
d.         Integritas ego : perasaan tidak berdaya, menarik diri, takut, mudah terangsang, ansietas.
e.       Makanan/cairan: anoreksia, muntah, perubahan rasa, faringitis, penurunan BB dan disfagia
f.       Neurosensori : penurunan koordinasi, disorientasi, pusing kesemutan, parestesia, aktivitas kejang, otot mudah terangsang.
g.      Nyeri : nyeri abomen, sakit kepala, nyeri sendi, perilaku hati-hati gelisah
h.      Pernafasan : nafas pendek, batuk, dispneu, takipneu, ronkhi, gemericik, penurunan bunyi nafas
i.        Keamanan : gangguan penglihatan, perdarahan spontan tidak terkontrol, demam, infeksi, kemerahan, purpura, pembesaran nodus limfe.
j.        Seksualitas : perubahan libido, perubahan menstruasi, impotensi, menoragia.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Hitung darah lengkap : menunjukkan normositik, anemia normositi
2.      Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100ml
3.      Retikulosit : jumlah biasaya rendah
4.      Trombosit : sangat rendah (< 50000/mm)
5.      SDP : mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP immatur
6.      PTT : memanjang
7.      LDH : mungkin meningkat
8.      Asam urat serum : mungkin meningkat
9.      Muramidase serum : pengikatan pada leukemia monositik akut dan mielomonositik
10.  Copper serum : meningkat
11.  Zink serum : menurun
12.  Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan

I. PENATALAKSANAAN
1.      Pelaksanaan kemoterapi
2.      Irradiasi kranial
3.      Terdapat tiga fase pelaksanaan keoterapi :
a.    Fase induksi
Dimulasi 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini diberikan terapi kortikostreroid (prednison), vincristin dan L-asparaginase. Fase induksi dinyatakan behasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sumsum tulang ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5%.

b. fase Profilaksis Sistem saraf pusat
Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine dan hydrocotison melaui intrathecal untuk mencegah invsi sel leukemia ke otak. Terapi irradiasi kranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat.

c. Konsolidasi
Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan unutk mempertahankan remisis dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, mingguan atau bulanan dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis obat dikurangi.

BAB III
ASUHAN KEPERAWTAN
1.      PENGKAJIAN
1.      Riwayat penyakit : pengobatan kanker sebelumnya.
2.      Riwayat keluarga : adanya gangguan hematologis, adanya faktor herediter misal kembar monozigot).
3.      Kaji adanya tanda-tanda anemia : kelemahan, kelelahan, pucat, sakit kepala, anoreksia, muntah, sesak, nafas cepat.
4.      Kaji adanya tanda-tanda leukopenia : demam, stomatitis, gejala infeksi pernafasan atas, infeksi perkemihan; infeksi kulit dapat timbul kemerahan atau hiotam tanpa pus.
5.      Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : ptechiae, purpura, perdarahan membran mukosa, pembentukan hematoma, purpura; kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medula: limfadenopati, hepatomegali, splenomegali.
6.      Kaji adanya pembesaran testis, hemAturia, hipertensi, gagal ginjal, inflamasi di sekkitar rektal dan nyeri.

Data dasar pengkajian klien, meliputi:
1.      Aktivitas/istirahat
Gejala      : kelelahan, malaise, kelemahan, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas biasanya
Tanda      : kelelahan otot, peningkatan kebutuhan tidur, somnolen
2.      Sirkulasi  
Gejala            : palpitasi
Tanda            : takikardi, murmur jantung, kulit dan membrane mukosa pucat, deficit saraf  cranial, tanda perdarahan serebral
3.      Integritas Ego
Gejala            : perasaan tidak berdaya/tak ada harapan
Tanda              : depresi, menarik diri, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan alam perasaan, kacau
4.      Eliminasi
Gejala                     : diare, nyeri tekan perianal, darah merah terang pada tissue, feses hitam, darah pada urine, penurunan haluaran urine.
5.      Makanan/cairan
Gejala                     : kehilangan nafsu makan, anoreksia, muntah, perubahan/penyimpangan rasa, penurunan BB, faringitis, disfagia.
Tanda                     : distensi abdominal, penurunan bunyi usus, splenomegali, hepatomegali, ikterik, stomatitis, ulkus mulut, hipertropi gigi (infiltrasi gusi mengindikasikan leukimia monositik akut)
6.      Neurosensori
Gejala                     : kurang/penurunan koordinasi, perubahan alam perasaan, kacau, disorientasi kurang konsentrasi, pusing, kebas, kesemutan, parastesia
Tanda             : otot mudah terangsang, aktivitas kejang
7.      Nyeri/keamanan
Gejala                     : nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri tulang/sendi, nyeri tekan sterna, kram otot
Tanda                      : perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah, focus pada diri sendiri
8.      Pernafasan
Gejala                     : nafas pendek dengan kerja minimal
Tanda                      : dispnea, takipnnea, batuk, gemericik, ronkhi, penurunan bunyi napas
9.      Keamanan
Gejala                     : riwayat infeksi saat ini/dahulu, riwayat jatuh, gangguan penglihatan/kerusakan, perdarahan spontan tak terkontrol dengan trauma minimal
Tanda                      : demam, infeksi, kemerahan, purpura, perdarahan retinal, perdarahan gusi, epistaksis, pembesaran nodus limfe, limpa atau hati (sehubungan dengan invasi jaringan), papiledema dan eksoptalmus, infiltrasi leukimia pada dermis.
10.  Seksualitas
Gejala                     : perubahan libido, perubahan aliran mentruasi, menoragia, impoten.
11.  Penyuluhan/pembelajaran
Gejala                     : riwayat terpajan pada kimiawi, kadar ionisasi radiasi berlebihan, pengobatan kemoterapi sebelumnya, gangguan kromosom.
2.      DIAGNOSIS KEPERAWATAN
a.    Actual/ resiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan perubahan maturitas sel darah merah, peningkatan jumlah limfosit imatur, dan imunosupresi.
b.    Aktul/ resiko terhadap penurunan volume cairan yang yang berhubungan dengan muntah, perdarahan, diare, dan penurunan intake cairan.
c.    Nyeri akut yang berhubungan dengan pembesaran kelenjar limfa, efek sekunder pemberian agen antileukemia.
d.    Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan kelemahan, penurunan sumber energy, peningkatan laju metabolism akibat produksi leukosit yang berlebihan, serta ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan.
e.    Koping individu atau keluarga tidak efektif yang berhubungan dengan prognosis penyakit, gambaran diri yang salah, dan perubahan peran.
f.     Kecemasan yang berhubungan dengan prognosis penyakit.

3.      RENCANA KEPERAWATAN
Actual/ resiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan perubahan maturitas sel darah merah, peningkatan jumlah limfosit imatur, dan imunosupresi.
Tujuan: dalam waktu …x 24 jam tidak terjadi infeksi
Kriteria: klien dan keluarga mampu mengidentifikasi factor resiko yang dapat dikurangi serta mampu menyebutkan tanda dan gejala infeksi.
Intervensi
Rasional
Kaji dan catat factor yang meningkatkan resiko infeksi
Menjadi data dasar meminimalkan resiko infeksi
Lakukan tindakan untuk mencegah pemajanan pada sumber sumber yang berisiko
·         Pertahankan isolasi protektif sesuai kebijakan intitusional
·         Pertahankan teknik mencuci tangan
·         Beri higien yang baik
·         Batasi pengunjung
·         Gunakan protocol rawat mulut
Kewaspadaan meminimalkan pemajanan klien terhadap bakteri, virus, dan pathogen jamur, baik endogen maupun eksogen
Laporkan bila ada perubahan TTV
Perubahan TTV merupakan tanda dini terjadinya sepsis, terutama bila terjadi peningkatan suhu tubuh
Jelaskan alasan kewaspadaan dan pantangan
Pengertian klien dapat memperbaiki kepatuhan dan mengurangi factor resiko.
Yakinkan klien keluarga bahwa peningkatan kerentatan pada infeksi hanya sementara
Granulositopenia dapat menetap 6-6-12 minggu. Pengertian tentang sifat sementara granulositopenia dapat medmbantu kecemasan klien dan keluarga
Minimalkan prosedur infasif
Prosedur tertentu dapat menyebabkan trauma jaringan, meningkatkan kerentatan infeksi
Dapatkan kultur sputum, urin, diare, darah, dan sekresi tubuh abnormal sesuai anjuran
Kultur dapat mengonfirmasikan infeksi dean mengidentifikasi oerganisme penyebab.

Aktual/ resiko terhadap penurunan volume cairan yang yang berhubungan dengan muntah, perdarahan, diare, dan penurunan intake cairan.
Tujuan: dalam waktu …x24 jam gangguan volume dan syok hipovolemik teratasi
Criteria: klien tidak mengeluh pusing, membrane mukosa lembab, turgor kulit normal, TTV normal, urine 600 ml/ hari. Laboratorium: nilai hematokrit dan protein serum meningkat, BUN/ kreatinin menurun
Intervensi
Rasional
Pantau terus cairan tubuh ( turgor kulit, membrane mukosa, dan haluan urine)
Jumlah dan tipe cairan pengganti ditentukan dari keadaan status cairan.
Penurunan volume cairan mengakibatkan menurunya produksi urin, pemantauan yang ketat pada produksi urin 600 ml/hari merupakan tanda-tanda terjadinya syok kardiogenik
Kaji sumber-sumber kehilangan cairan
Kehilangan cairan bias berasal dari factor ginjal dan diluar ginjal. Penyakit yang mendasari terjadinya kekurangan volume cairan ini juga harus dibatasi. Perdarahan harus dikendalikan. Muntah dapat diatasi dengan obat-obat antiemetic dan diare dengan antidiare
Auskultasi TD. Bandingkan kedua lengan, ukur dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri bila memungkinkan
Hipotensi dapat terjadi pada hipovolemik yang memberikan manifestasi sudah terlibatnya system kardiovaskuler untuk melekukan kompensai mempertahankan tekanan darah
Timbang berat badan setiap hari
Sebagai ukuran keadekuatan volume cairan. Intake yang lebih besar dari output diintifikasi menjadi renal obstruksi
Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer, dan diaphoresis secara teratur
Mengetahui adanya pengaruh adanya peningkatan tahanan perifer
Pantau frekwensi jantung dan irama
Perubahan frekuensi dan irama jantung menunjukan komplikasi disritmia
Kolaborasi:
·         Pertahankan pemberian cairan secara interavena

Jalur yang paten penting untuk pemberian cepat dan memudahkan perawat dalam melakukan control intake dan output cairan
·         Pemberian kortikosteroit
Efek kortikosteroit yang menahan cairan dapat menurunkan bertambahnya cairan yang keluar
·         Monitor hasil pemeriksaan diagnostic: planet, Hb/Hct, dan bekan darah
Bila platelet kurang dari 20.000/mm, klien cendrung mengalami perdarahan. Penurunan Hb/Hct berindikasi terhadap perdarahan.





Nyeri akut yang berhubungan dengan pembesaran kelenjar limfe, efek sekunder pemberian agen antileukimia, peningkatan produksi asam laktat jaringan local
Tujuan: terdapat penurunan respons nyeri
Criteria: secara subjektif klien menyatakan penurunan rasa nyeri, secara objektif didapatkan tanda-tanda vital dalam batas normal, wajah rileks, dan tidak terjadi penurunan perfusi perifer
Intervensi
Rasional
Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, serta lama dan penyebarannya
Variasi penampilan dan prilaku klien karena nyeri sebagai temuan pengkajian
Lakukan manajemen nyeri keperawatan:
1.      Atur posisi fisilogis

2.      Istirahatkan klien


3.      Manajemen lingkungan: lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung


4.      Ajarkan tehnik relaksasi pernafasan dalam
5.      Ajarkan tehnik distraksi pada saat nyeri



6.      Lakukan manajemen sentuhan

Posisi fisiologis akan meningkatkan asupan O2 ke jaringan yang mengalami nyeri sekunder dari iskemia
Istirahat akan menurunkan kebutuhan O2 jaringan perifer sehingga akan menurunkan demand oksigen jaringan
Lingkungan yang tenang akan menurunkan stimulus eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung di ruangan
Meningkatkan asupan O2 sehingga akan mennurunkan nyeri sekunder dari iskemia
Distraksi dapat menurunkan stimulus internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorphin dan enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak dikirimkan kekorteks serebri sehingga menurunkan persepsi nyeri
Manajemen sentuhan pasa saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat membantu penurunkan nyeri. Masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan dengan otomatis membantu suplai darah dan oksigen kearea nyeri dan menurunkan sensai nyeri
Kolaborasi pemberian terapi
·         Analgetik



·         Kemoterapi




·         Radiasi

Digunakan untuk mengurangi nyeri sehubungan dengan hematoma otot yang besar dan perdarahan sendi analgetika oral non-opioid diberikan untuk menghindari ketergantungan terhadap narkotika pada nyeri kronis
Bentuk terapi utama adalah kemoterapi dengan kombinasi vincristine, prednisone, daunorubicin, dan asparaginase untuk terapi awal dan dilanjutkan dengan kombinasi mercaptopurine, methoxate, vincristine, dan prednisone untuk pemeliharaan.
Radiasi untuk daerah kraniospinal dan injeksi intratekal obat kemoterapi dapat membantu kekambuhan pada system saraf pusat


Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan kelemahan, penurunan sumber energy, peningkatan laju metabolism akibat produksi leukosit yang berlebihan, serta ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan.
Tujuan: aktivitas sehari-hari klien terpenuhi dan mengkatnya kemampaun beraktivitas
Kreteria: klien menunjukan kemampuan beraktivitas tanpa gejala-gejala yang berat, terutama mobilisai ditempat tidur.
Intervensi
Rasional
Catat frekuensi dan irama jantung, serta perubahan tekanan darah selama dan sesudah aktivitas
Respon klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokardium
Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas, dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat
Menurnkan kerja miokardium/ konsumsi oksigen
Anjurkan klien untuk menghindari tekanan abdomen, misalnya mengejan saat defekasi
Dengan mengejan dapat menyebabkan bradikardi, menurunkan curah jantung, dan takikardi serta peningkatan tekanan darah
Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas, contoh bangun dari kursi bila tak ada nyeri, ambulasi, dan istirahat selama satu jam setelah makan
Aktifitas yg maju memberikan control jantung, meningkatkan regangan dan mencegah aktivitas berlebihan.
Pertahankan klien tirah baring sementara sakit akut
Untuk mengurangi beban jantung
Pertahankan rentang gerak pasif selama sakit kritis
Meningkatkan kontraksi otot sehingga membantu aliran vena balik
Evaluasi tanda vital saat kemajuan aktiviatas terjadi
Untuk mengetahui fungsi jantung, bila dikaitkan dengan aktivitas
Berikan waktu istirahat di antara waktu aktivitas
Untuk mendapatkan cukup waktu resolusi bagi tubuh dan tidak terlalu memaksa kerja jantung
Selama aktivitas kaji EKG, dispnea, sianosis, kerja dan frekuensi napas serta keluhan subjektif
Melihat dampak dari aktivitas berserta fungsi jantung

Koping individu atau keluarga tidak evektif yang berhubungan dengan prognosis penyakit, gambaran diri yang salah, perubahan peran
Tujuan : dalam waktu 1x 24 jam klien atau kluarga mampu mengembangkan koping yang positif
Criteria hasil : klien kooperatif padda setiap intervensi keperawatan, mampu menyatakan atau mengomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi, mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi, nengakui dan menggabungkan perubahan dalam konsep diridengan cara yang akurat tyanpa harga diri yang negative

Intervensi
Rasional
Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan
Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi.
Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada klien.
Beberapa klien dapat menerima dan mengatur perubahan fungsi secara efektif dengan sedikit penyesuain diri, sedangkan yang laen mempunyai kesulitan membandingkan mengenal dan mengatur kekurangan
Anjurkan klie untuk mengekpresikan perasaan, termaksud permusuhan dan kemarahan
Menunjukan penerimaan, membantu klien untuk mengenal dan mulai menyusaikan dengan perasaan tersebut
Catat ketika klien menyatakan terpengaruh seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian
Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau perasaan negative terhadap gambaran tubuh juga kemampuan yang menunjukan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional
Berikan informasi status kesehatan pada klien dan kluarga
Klien dgn hemophilia sering memerlukan bantuan dalam menghadapi kondisis kronis, keterbatasan ruang kehidupan, dan kenyataan bahwa kondisi tersebut merupakan penyakit yang akan di turunkan kegenerasi berikutnya.
Dukung mekanisme koping efektif
Sejak masa kanak- kanak, klien di bantu untuk menerima dirirnya sendiri dan penyakitnya serta m,engidentifikasi aspek positif dari kehidupan mefreka
Hindari factor peningkatan stress emosional
Perawat harus mengetahui pengaruh stress tersebut secara professional dan personal serta menggali semua sumber dukungan untuk mereka sediri begitu juga untuk klien dan kluarganya
Bantu dan ajarkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan
Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehidupan
Anjurkan orang yang terdekat utuk mengijinkan klien melakukan sebanyak –banyaknya hal- hal untuk dirinya
Menyebutkan kembali perasaan kemandirian dan membantu poerkembangan harga diri sendiri serta mempengaruhi proses rehabilitasi
Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi
Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa mendatang
Dukung penggunaan alat –alat yang dapat mengaadaptasikan klien, tongkat, alat bantu jalan, dan tas panjang untuk kateter
Meningkatkan kemandirian untuk membantu pemenuhan kebutuhan fisik dan menunjukan posisi untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial
Pantau gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi, letargi dan menarik diri
Dapat mengindikasikan terjadinya depresi umumnya terjadi sebagai pengaruh dari stroke di mana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut
Kolaborasi : rujuk pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi
Dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting utnmtuk perkembangan perasaan.

Cemas berhubungan dengan rasa takut akan kematian, ancaman atau perubahan kesehatan
Tujuan : dalam waktu 1 x24 jam kecemasan klien berkurang
Criteria hasil :  klien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang mempengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan wajah rileks.

Intervensi
Rasional
Kaji tanda verbal dan noverbal kecemasan, damping klien dan lakukan tindakan bila menunjukan prilaku merusak
Reaksi verbal / nonverbal dapat menunjukan rasa agitasi, marah dan gelisah
Hindari konfrontasi
Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerja sama, dan mungkin memperlambat penyembuhan
Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan, beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat
Mengurangi rangsangan internal yang tidak perlu
Tingkatkan control sensasi klien
Dapat menurunkan ketakutan dengan cara memberikan informasi tentang keadaan klien
Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang di harapkan
Orientasi dapat menurunkan kecemasan
Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan ansietasnya
Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak di ekspresikan
Berikan privasi klien dan orang terdekat
Memberikan waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan cemas dan prilaku adaptasi
Kolaborasi : berikan anti cemas sesuai indikasi contohnya : diazepam.
Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan

BAB IV
PENUTUP

A.  KESIMPULAN

Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsumtulang dan limfa..
Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalamsumsum tulang, menggantikan elemen sumsum tulang norma3.Asuhan keperawatan pada anak yang mengalami leukemia tidak hanya perawat yangberperan tapi peran orang tua juga sangat penting sebagai pemotivasi hidup bagi anak.

 
B.  SARAN
Demikian makalah ini kami susun sebagaimana mestinya semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi tim penyusun dan bagi semua mahasiswa dan mahasiswi kesehatan pada umumnya. 

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998
Doenges, Marilynn E. Nursing Care Plans: Guidelines For Planning And Documenting Patient Care.
http://catatanperawat.byethost15.com/asuhan-keperawatan/asuhan-keperawatan-anak-leukimia/ 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar